Mon. Mar 2nd, 2026

Diberitakan bahwa harga sapi di Australia turun 30% s/d 50%. Sesungguhnya inilah kesempatan emas memperbanyak populasi sapi Indonesia. Jika serius dan konsisten mau swasembada sapi. Apalagi ribuan ekor sapi betina yang diimpor.

Kita tahu data menunjukkan bahwa pertumbuhan produksi sapi Indonesia hanya 1,3%/tahun. Tapi pertumbuhan permintaan sapi di Indonesia 6,4%/tahun. Jika tanpa penambahan sapi betina bunting dari impor mustahil bisa swasembada sapi.

Jika mengkaji data fenomena di atas, memang wajar saja kalau dari tahun ke tahun jumlah impor sapi, daging sapi dan kerbau naik tajam. Hingga tahun 2022 tembus 276.000 ton. Setara dengan 2,3 juta ekor jika indeks 350 kg/ekor seperti Sapi Bali. Setara menguras devisa Rp 45 triliun/tahunnya.

Saya pribadi tidak heran, karena populasi sapi Indonesia hanya 18 juta ekor padahal jumlah penduduk 274 juta jiwa. Sebaliknya populasi sapi di Australia 26 juta ekor, padahal penduduknya hanya 25,5 juta jiwa. Keadaan yang kontradiktif.

Jika Indonesia mau swasembada sapi, idealnya populasi sapi Indonesia harus 10% dari penduduknya, setara 27,4 juta ekor. Artinya kurang 10 juta ekor lagi. Kesempatan emas dialog dengan Australia yang lagi over populasi. Agar bisa impor khusus betina bunting.

Harga sapi di Australia turun drastis. Dampak langsung sikap pemerintah yang membuka peluang boleh impor dari banyak negara, bukan hanya tergantung dari Australia saja. Saat bersamaan Vietnam lagi tidak impor sapi dari Australia. Padahal bagi Australia, pasar utamanya Indonesia.

Indonesia jadi mesin pencetak devisa (ATM) oleh Australia. Sapi saja belasan triliun per tahunnya. Gandum sekitar 56% dari total impor 13 juta ton/tahun akan setara dengan Rp 51 triliun/tahun. Belum lagi Indonesia impor gula, apel, kiwi dan alpukat juga dari Australia.

Pokoknya Australia bahagia sekali punya tetangga Indonesia, yang penduduknya 274 juta jiwa jadi target ” pangsa pasar ” produknya, karena potensi pasar pangan di Indonesia sangat besar. Hingga targetnya dapat devisa khusus dari Indonesia saja harus setara dengan minimal Rp 100 triliun/tahun.

Lucunya, Australia impor pakan sapi wujud limbah sawit bernama bungkil dari Kalimantan Indonesia. Jutaan ton per tahun. Artinya jika mau berpikir asimetris produktif, kita impor sapi betina dari Australia yang tanpa perlakuan khusus agar bisa beranak pinak jika dipelihara di Kalimantan. Kita gantian yang mulai sedikit happy dari sapi.

Jelas ini peluang emas Indonesia. Hanya masalahnya, pemerintah serius nggak kalau mau swasembada sapi ? Mau nggak impor sapi betina produktif di Australia yang lagi over populasi lalu diobral murah meriah saat ini ? Ingin atau nggak pemerintah melihat masyarakat madani, yang jadi TKI pulang, lalu jadi peternak sapi ?

Sekali lagi, kita makin banyak ketergantungan pangan dari impor saat ini. Harus dikaji ulang. Harus ada upaya khusus penyadaran kecintaan kepada kemandirian bangsanya. Kemandirian terwujud jika makin banyak warganya berpartisipasi jadi investor produktif di negaranya.

Caranya, sama persis seperti apa yang dilakukan oleh banyak negara yang maju pesat yaitu bangun SDM mandiri jiwa raganya sesuai syair lagu Indonesia Raya dan iklim usaha yang merangsang agar semua anak bangsa Indonesia pada gemar usaha dan investasi produktif nuansa inovatif.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *