Sapi salah satu sumber protein hewani. Sedangkan kekurangan protein hewani jadi sebab stunting malnutrisi kerdil retardasi mental. Ini masalah serius Bangsa Indonesia, menyangkut daya saing bangsa ke depan. Artinya jika makin tinggi stuntingnya, maka daya saingnya 20 tahun lagi makin rendah.
Presiden Jokowi mengatakan stunting pada balita 34% karena kekurangan protein hewani. Angka stunting memang turun drastis tahun 2013 ada 37% dan tahun 2022 tinggal 21,6%. WHO targetnya maksimal 20% dan negara maju hanya 5%. Ini PR besar kita semua.
Sapi, juga sebagai pencipta lapangan kerja banyak sekali. Mulai dari peternak, pabrik pakan, rumah potong hewan (RPH), tukang bakso, industri kulit sapi untuk jadi sepatu, tas, sabuk dan lainnya. Karena sapi multiplier effect nya banyak. Ekonomi tumbuh dinamis berdikari.
Jumlah impor daging sapi dan kerbau tahun 2022 sebanyak 266.000 ton. Jika rendemen daging saja lazimnya 30%, jika sapi Bali dan sapi impor rerata 350 kg/ekor. Jika kebutuhan peternak di desa Rp 35 juta/KK/tahun. Impor tahun 2022 setara dengan hilangnya pekerjaan peternak 1,2 juta KK atau 2,25 juta ekor sapi.
Lalu, apa solusi konkret terukur agar swasembada sapi, tercipta lapangan kerja 1,2 juta KK peternak, industri kulit tetap bergairah dapat bahan baku seperti dulu dan stunting cepat turun hanya 5% saja seperti negara maju agar kompetitif SDM kita serta mudah implementasinya di lapangan ?
1. Harus serius fokus terukur oleh logika. Impor sapi betina bunting 5 juta ekor. Maka anaknya akan 4,5 juta ekor/tahun. Yang jantan akan dipotong saja 3 tahun berikutnya akan 50% dari total anaknya, setara dengan 2,2 juta ekor. Pas jumlahnya dengan yang diimpor.
2. Tahun berikutnya akan beranak lagi dan punya cucu juga. Maka populasi sapi di Indonesia akan makin banyak lagi. Deret ukur. Sejalan dengan terciptanya lapangan kerja di hulu dan hilir makin banyak lagi. Jika dikembangkan di Kalimantan sentra pakan berlimpah murah meriah.
3. Kalimantan selama ini juga sebagai penyerap sapi terbanyak dari pulau lainnya. Padahal Kalimantan pemilik sawit terluas ke 2 setelah Sumatera, data tahun 2019 luasnya 5,9 juta hektar (Ditjenbun Kementan). Akan menghasilkan bungkil dan solid sawit rendemen 7% x 20 ton TBS/ha/tahun x 5,9 juta ha = 826.000 ton/tahun.
4. Sumber dana. Sapi bunting Rp 20 juta/ekor jika Sapi Brahman. Apabila 5 juta ekor setara Rp 100 triliun. Jika memakai dana bank bunga 8%/tahun setara Rp 8 triliun saja. Bunganya ditanggung negara, APBN. Hanya setara yang dikorupsi oleh Menteri Kominfo dkk Rp 8,3 triliun.
Kesimpulan ;
1. Jika pemerintah risih dengan impor sapi dan daging kerbau.
2. Jika pemerintah serius mau swasembada sapi bahkan ekspor seperti tahun 1980-an.
3. Jika pemerintah tanggung jawab terhadap mutu SDM penerus bangsa mau meniadakan stunting.
4. Jika pemerintah juga malu apabila banyak TKI hingga korban 1.980 jiwa/tahunnya, karena banyaknya pengangguran lalu meluber ke luar negeri.
5. Jika pemerintah mau kaji ulang progja 1.000 desa, 1.000 sapi. Ternyata banyak yang terkendala. Bahkan jadi media korupsi saja.
Tentu sangat mudah mewujudkan program di atas. Karena APBN dana dari pajak rakyat, idealnya untuk membangun SDM dan iklim usaha. Saya sadar hanyalah Pak Tani. Ini hanya sebutir benih pemikiran saja, semoga tumbuh berkembang dan berbuah manfaatnya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630