Guru Malamku dulu berpesan kalimat bijak agar murid – muridnya tidak terlalu sombong, rendah hati agar tiada tempat lagi bagi orang lain untuk merendahkannya lagi dan itulah bagian dari proses kemampuan menggembalakan badannya sendiri. Di antara pesan bijaknya :
1. ” Jika seseorang memandang posisi orang lain terlalu rendah, sesungguhnya dia telah menunjukkan diri bahwa posisinya saat itu terlalu tinggi baginya, belum pantas disandang baginya. “
2. ” Jika karena sedang di atas bukit lalu melihat yang lain kecil – kecil di bawah sana, sama artinya posisi di atas bukit sana juga terlihat teramat kecil bagi orang banyak di sekitarnya. “
Sejujurnya artikel singkat ini, sesungguhnya sebuah jawaban bagi yang terlalu sering memandang profesi petani tidak hormat. Dianggap bodoh, miskin dan lainnya. Saya sebagai petani lambat laun tidak berkenan. Sikap ngalih, ngalah, ngadeg / menghindar, mengalah dan berdiri jika terus diserang.
Tiada maksud membusungkan dada. Saya pribadi panggilan Pak Tani, nama panggung. Nama sebenarnya Wayan Supadno, pangkat Mayor Ckm. Kami sekeluarga sungguh sangat bersyukur jadi petani peternak. Penyebab sehat dan bahagia. Juga cukup untuk sekeluarga.
1. Jika petani dianggap bodoh. Saya pribadi sebagai petani selain alumni kampus terhormat Unair Surabaya dan Akmil Magelang. Juga punya Hak Kekayaan Intelektual terdaftar di Ditjen Haki Kemenkumham. Artinya banyak petani yang juga jadi pembelajar sekaligus riset membumi.
2. Jika petani dianggap penanti proyek bansos dan NPK subsidi APBN. Saya sebagai petani dan peternak sejak tahun 2009 mengawali bertani tiada pernah dapat pupuk NPK subsidi, alsintan gratis dan sapi gratis. Nol belum pernah. Semua saya lakukan demi menjaga karakter agar makin improvisasi mandiri nuansa inovasi, riset terhilirisasikan.
3. Jika petani dianggap masa depannya suram tidak jelas. Untuk keluarganya. Saya juga petani, selama ini mengantar anak – anak agar bisa studi semua berasal dari rezeki bertani dan beternak selain produksi pupuk hayati mikroba Bio Extrim dan hormonal Hormax. Kedua anak saya lulus Pascasarjana S2 dan 1 anak lulus Sarjana. Nilai memuaskan semua.
4. Jika petani selalu dituduh miskin. Saya petani tahun 2009 mengawali dari ” Nol Besar “. Ilmu pertanian tiada punya dan lahan sejengkal pun tidak punya juga. Berawal dari numpang tanam buncis dan cabai 2 ha lahan tidur. Di Jonggol Bogor lalu sewa bayar panen tanam singkong 37 ha dan padi 21 ha cetak ulang jadi sawah.
Setelah saya kaji ulang 13 tahun menekuni profesi petani, peternak dan formulasi Bio Extrim maupun Hormax. Kebun jadi di atas 500 hektar, sapi di atas 500 ekor, kambing lagi dimulai 51 ekor. Rumah pribadi ada 3 tempat. Kesemua kebun dan rumah tiada 1 pun yang jadi jaminan utang bank. Kebun dan rumah nol utang bank.
Masih ada 5 alat berat excavator dan loader. Dump truk dan lainnya. Yang paling utama pertama termahal asetnya adalah SDM baik tim pemikir, karyawan tetap, harian atau borongan. Banyak yang sarjana. Dominan masyarakat sekitar. Sekalipun 13 tahun lalu mengawali bertani dari Nol Besar, jika saya kaji kalkulasi aset produktif dibagi 13 tahun bertani, berarti selama ini belasan miliar laba per tahunnya.
Untuk itu, Kawula Muda yang saat ini meragukan masa depan profesi petani peternak. Buang jauh – jauh anggapan itu. Menyesatkan. Saya testimoni pelakunya bahwa jadi petani peternak sangat menjanjikan. Asal mau terus membekali diri dan kontan dipraktikkan agar dapat ilmu hikmah, guna menyempurnakan praktik – praktik berikutnya.
Ilmu dan inovasi jalan pintasnya. Bisa dipercaya, modal utamanya. Do’a ku di nadimu wahai Kawula Muda. Majuuu jalan !
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630