Baru saja saya dapat laporan dari Ketum Apkasindo DR Gulat Manurung bahwa hingga saat ini pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi di 146 kabupaten se-Indonesia, yang tutup sudah 47 tempat.
Artinya sawit milik petani yang ada di sekitar 47 PKS tersebut tidak punya pasarnya. Busuk di pohon. Bahkan ada yang sudah dibakar dijadikan pupuk sekaligus wujud protes ke pemerintah. Memilukan.
Saya jadi ingat pernah bangkrut 2008, terlalu sakit. Saat ini jutaan KK petani terancam bangkrut juga. Tiada pemasukan tapi pengeluaran wajib ada. Padahal petani sawit termasuk rakyat yang gigih. Bukan pemalas yang suka antri pembagian bansos atau subsidi.
Padahal kajian pra investasi agro skala prioritas no 1 adalah ” marketable ” mudah dipasarkan harga wajar dengan jarak terdekat. Barulah fisibelitas, agroklimat, risiko dan layak perbankan. Jika sawit tidak laku karena musibah alam bisa dimaklumi, tapi jika karena kebijakan salah ?
Ironisnya harga CPO di Malaysia Rp 19.000/kg, di Indonesia Rp 10.800/kg. Harga TBS di Malaysia di atas Rp 4.000/kg, di Indonesia tidak laku. Bahkan lelang di BKPN terus gagal transaksi. Harga penawarnya terlalu rendah, makin menekan harga TBS petani.
Imbasnya tangki CPO di PKS tidak berkurang, tetap penuh. Makin banyak yang penuh maka makin banyak PKS yang tutup tidak terima TBS petani. Hanya dengan cepat ekspor solusinya agar CPO terkuras lalu PKS mengolah TBS dari petani.
Tulisan ini bukan karena saya petani sawit atau Dewan Pakar Apkasindo. Karena PKS di dekat kebunku masih buka, sawitku masih laku. Usaha sapi, bibit, pupuk, SPBU, alpukat dan durian masih jalan normal, mengamankan cash flow.
Tapi tulisan ini murni karena ” Hati Nurani ” terpanggil. Agar hidup ini bermanfaat nyata. Kasihan masyarakat sawit usahanya rusak akibat kebijakan iklim usaha tidak pas. Kasihan juga masyarakat kesulitan mendapatkan migor murah. Semoga fakta lapangan ini jadi pertimbangan para pemimpin kita.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630


