Mon. Jun 15th, 2026

Wayan Supadno

Dulu saat Majapahit bubar, ada penasihat spiritual Raja Brawijaya V, bernama Sabdo Palon dan didampingi Naya Genggong. Meramal 500 tahun lagi akan kembali ajaran “budi pekerti”.

Sebelumnya ada masa bernama Kala Bendu, waktu kehancuran peradaban manusia moralitasnya. Yang ditandai fenomena alam seperti saat ini. Agar dapat ilmu hikmah, kita simak berikut ini.

Lupa Asal dan Tujuan Hidup.

Nanti malam 1 Suro, selama 3 malam dan 3 hari. Di Alas Purwo Banyuwangi dan Jolotundo Majakerto akan didatangi ribuan umat manusia multi agama. Dulu tidak ada, sekarang makin banyak saja.

Mereka mencari ketenangan diskusi dengan hati. Iktikaf atau semedi atau menenangkan dirinya sendiri. Pendek kata agar lebih tahu diri agar bisa jadi gembala atas badannya sendiri.

Karena melihat kenyataan, yang ngakunya beragama tapi justru merasa paling benar dan suka menyalahkan yang lainnya. Terjadi saling mengolok terpublikasikan.

Yang katanya jadi pimpinan agama, justru merusak nama baik agamanya. Misal Kyai menodai para santriwatinya, di Pati, Pekalongan, Kebumen dan lainnya.

Yang gelarnya Doktor, justru melakukan tindakan seperti tanpa sekolah. Misal Ka BGN belanja sepeda motor listrik di mark up, jual beli titik Dapur MBG dan lainnya.

Yang harusnya melahirkan anak terdidik santun penuh etika, jika memberi masukan. Justru Kampus UGM sentra Budaya Jawa melahirkan Tyo, semua tahu perilakunya.

Pasar hilang ramainya (pasar ilang kumandange). Ini terlihat nyata bahwa ekonomi masyarakat jumlah banyak justru dikendalikan oleh cuma segelintir manusia kapitalis.

Istana dipermalukan (keraton kawirangan), kita tahu semua perubahan jaman justru Kepala Negara jadi bahan ejekan caci maki dengan bangganya. Yang semestinya penuh penghormatan.

Yang pria mau jadi wanita dan yang wanita mau jadi pria. Ini banyak kejadian yang cinta dengan sesama jenis kelamin. Ironisnya lagi minta perlindungan UU, atas nama hak asasi.

Ilmu hikmahnya, saat ini fenomena alam yang seolah tidak bisa dibendung lagi oleh umat manusia, terpimpin sekalipun. Persis bencana alam gunung berapi meletus saja. Padahal akibat ulah manusia.

Pada fase Kala Bendu, sebelum terwujudnya ramalan Sabdo Palon-Naya Genggong, kembalinya ajaran budi pekerti. Hanya bisa dihentikan dengan kesadaran kolektif saling ngalah agar menang bersama.

Artikel singkat ini hanyalah cocokologi, mencocokkan antara tulisan sastra Jawa Kuno tentang ramalan Sabdo Palon dengan fakta lapangan saat ini. Tanpa perlu menyalahkan, tak ubahnya orang lain berpendapat di era demokrasi saat ini.

Salam Bermanfaat 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *