{"id":5120,"date":"2026-01-02T07:57:56","date_gmt":"2026-01-02T00:57:56","guid":{"rendered":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/?p=5120"},"modified":"2026-01-02T07:57:56","modified_gmt":"2026-01-02T00:57:56","slug":"penjabaran-ekonomi-kerakyatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/","title":{"rendered":"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN"},"content":{"rendered":"\n<p>Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu pemerintah mencari cara dan strategi mengatasinya dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sumber dananya dari hasil sawit ilegal yang disita negara 3,8 juta hektar dikelola oleh PT Agrinas (Danantara). Hasil sita tambang ilegal, penyelundupan BBM ditertibkan dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sebuah desa ada Dapur MBG, melayani 3.000 murid. Praktis tiap hari dana mengalir dari pusat ke desa tersebut Rp 15.000\/porsi x 3.000 porsi = Rp 45 juta. Setara Rp 15 miliar\/tahun. Spontan desa tersebut ekonominya bangkit karena jadi lapangan kerja minimal 50 KK dan petani\/peternak\/nelayan ratusan keluarga.<\/p>\n\n\n\n<p>Konkretnya 3.000 murid dapat makan bergizi gratis uang dari hasil panen sawit 3,8 juta hektar milik PT Agrinas (BUMN\/Danantara). Anggaran belanja Rp 10.000\/porsi. Setara Rp 30 juta\/hari. Jadi omzet para petani, peternak, nelayan dan UMKM. Setara minimal Rp 10 miliar\/tahun. Ekonomi rakyat tumbuh massal nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang pelaku utamanya rakyat kecil. Seperti petani, nelayan, UMKM, pedagang lokal. Uangnya berputar di dalam negeri tersebar di semua daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Negara aktif hadir sebagai pengatur dan pembeli. Bukan hanya penonton. Tujuannya pemerataan kesejahteraan, bukan hanya pertumbuhan angka PDB (Produk Domestik Bruto). Intinya rakyat jadi subjek ekonomi, bukan sekedar konsumen.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Contoh alat kebijakan ekonomi kerakyatan, bukan sekedar program sosial tanpa pertimbangan matang dan jangka panjang implikasi positifnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena negara membeli bahan pangan dalam jumlah besar. Jika dibeli dari petani, peternak, nelayan lokal. Pendapatan rakyat naik. Produksi lokal hidup. UMKM dapur, katering, logistik ikut bergerak. Jadi MBG stimulus ekonomi dari bawah.<\/p>\n\n\n\n<p>Manfaat Ekonomi Kerakyatan Lewat MBG.<\/p>\n\n\n\n<p>Manfaat Langsung ;<\/p>\n\n\n\n<p>1). Petani dan peternak punya pasar pasti.<\/p>\n\n\n\n<p>2). Harga lebih stabil, tidak tergantung tengkulak.<\/p>\n\n\n\n<p>3). Lapangan kerja lokal, tenaga di dapur, distribusi, pengolahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Manfaat Tidak Langsung ;<\/p>\n\n\n\n<p>1). Perputaran uang di desa\/kecamatan.<\/p>\n\n\n\n<p>2). Gizi anak naik, kualitas SDM naik.<\/p>\n\n\n\n<p>3). Angka kemiskinan dan stunting turun.<\/p>\n\n\n\n<p>Kesimpulan Singkat.<\/p>\n\n\n\n<p>Makan Bergizi Gratis adalah contoh nyata penjabaran dari konsep ekonomi kerakyatan jika dan hanya jika bahan pangan dari rakyat. Dikelola koperasi\/UMKM. Negara jadi regulatornya.<\/p>\n\n\n\n<p>Salam Inovasi \ud83c\uddee\ud83c\udde9<br>Wayan Supadno<br>Pak Tani<br>HP 081586580630<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean. Lalu pemerintah mencari cara dan strategi mengatasinya dengan Program Makan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5121,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.11 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN - Artikel Pak Tani<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN - Artikel Pak Tani\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Artikel Pak Tani\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-01-02T00:57:56+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"http:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-02-at-07.54.50.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1526\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1179\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Wayan Supadno\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Wayan Supadno\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/\",\"url\":\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/\",\"name\":\"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN - Artikel Pak Tani\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-01-02T00:57:56+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-02T00:57:56+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#\/schema\/person\/b6cf4f2df37eff47886ef305eb09c884\"},\"description\":\"Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#website\",\"url\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/\",\"name\":\"Artikel Pak Tani\",\"description\":\"Artikel Wayan Supadno\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#\/schema\/person\/b6cf4f2df37eff47886ef305eb09c884\",\"name\":\"Wayan Supadno\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a81db2a3a7c2d36607541422412d916a?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a81db2a3a7c2d36607541422412d916a?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Wayan Supadno\"},\"sameAs\":[\"http:\/\/localhost\/wordpress\"],\"url\":\"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/author\/admin\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN - Artikel Pak Tani","description":"Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN - Artikel Pak Tani","og_description":"Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean.","og_url":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/","og_site_name":"Artikel Pak Tani","article_published_time":"2026-01-02T00:57:56+00:00","og_image":[{"width":1526,"height":1179,"url":"http:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-02-at-07.54.50.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Wayan Supadno","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Wayan Supadno","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/","url":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/","name":"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN - Artikel Pak Tani","isPartOf":{"@id":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#website"},"datePublished":"2026-01-02T00:57:56+00:00","dateModified":"2026-01-02T00:57:56+00:00","author":{"@id":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#\/schema\/person\/b6cf4f2df37eff47886ef305eb09c884"},"description":"Berikut ini kisah nyata yang sedang terjadi di negara kita saat ini. Pemerintah sadar betul bahwa angka stunting malnutrisi masih tinggi 20,6% walaupun sudah turun dari 37% tahun 2013. Dampaknya IQ rerata hanya 78,5 dan tinggi badan rerata hanya 158 cm. Tergolong rendah di Asean.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/penjabaran-ekonomi-kerakyatan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"PENJABARAN EKONOMI KERAKYATAN"}]},{"@type":"WebSite","@id":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#website","url":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/","name":"Artikel Pak Tani","description":"Artikel Wayan Supadno","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#\/schema\/person\/b6cf4f2df37eff47886ef305eb09c884","name":"Wayan Supadno","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"http:\/\/bja.skom.id\/wordpress\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a81db2a3a7c2d36607541422412d916a?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/a81db2a3a7c2d36607541422412d916a?s=96&d=mm&r=g","caption":"Wayan Supadno"},"sameAs":["http:\/\/localhost\/wordpress"],"url":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/author\/admin\/"}]}},"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/WhatsApp-Image-2026-01-02-at-07.54.50.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5120"}],"collection":[{"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5120"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5120\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5122,"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5120\/revisions\/5122"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5120"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5120"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bjafarm.com\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}