Wayan Supadno
Agar mudah dapat ilmu hikmah yang bermanfaat, berikut ini saya kisahkan proses terjadinya inflasi yang sangat beresiko jika tanpa diantisipasi dengan cepat. Ini sangat penting bagi pemerintah, juga peluang emas bagi pelaku usaha.
1). Skala Nasional.
Selama 1,5 bulan BGN menyalurkan dana APBN Rp 32,1 triliun. Atau setara Rp 21 triliun/bulan. Komponen di dalamnya 70% setara Rp 14 triliun/bulan untuk belanja bahan makanan. Sekitar Rp 820 miliar/hari belanja untuk MBG.
Inilah peluang emas bagi produsen pangan petani, peternak, nelayan dan UMKM. Artinya petani peternak nelayan dituntut agar jadi “investor massal” agar tetap seimbang antara pasokan dan permintaan pasar sehingga harga stabil.
2). Skala Usaha.
Banyak pemilik Dapur MBG (SPPG) mulai mengeluh karena harga bahan baku pada naik. Telur dan ayam, selama ini “surplus”. Tapi karena masif makan bergizi, naik permintaannya. Pasokan tetap, permintaan naik, harga jadi mahal (Hukum Pasar).
Bukan hanya sumber protein hewani telur dan daging ayam saja yang naik. Tapi sumber vitamin agar stamina putra putri kita juga naik, sekarang harga buah tropis juga naik. Misal pisang, jeruk, semangka dan lainnya. Jika harga terus naik selama 6 bulan “pasti” membentuk inflasi naik.
3). Skala Keluarga.
Jika Emak-Emak belanja ke pasar, jika terlambat datang saja. Karena keduluan Petugas Dapur MBG/SPPG hampir selalu kekurangan barang yang dicari. Harga juga naik. Misal cabai, bawang merah dan lainnya. Ini proses alami di pasar.
Konsekuensi logisnya, konsumsi rumah tangga naik. Pertumbuhan ekonomi terbentuk. Tapi jika tanpa diimbangi naiknya pendapatan akan jadi sebab daya beli turun, kemiskinan terbentuk dan “rasio gini kesenjangan” makin lebar menganga.
Contoh di atas adalah “ancaman serius” sekitar 6 bulan lagi. Jika Kementerian Pertanian tanpa melakukan “antisipasi” sejak dini, karena hampir semua pangan bergizi naik permintaan pasarnya atas “order” dari MBG secara nasional.
Ekonometrika data statistik empirik selama ini sangat valid, harus diwaspadai. Misal melakukan “akselerasi investasi” bahan baku pangan. Konkretnya siapa yang mau investasi ternak ayam petelur dan pedaging dapat insentif menarik.
Yang patut jadi tauladan adalah Badan Gizi Nasional (BGN) merangsang masyarakat agar mau investasi SPPG. Indeks Rp 3 miliar/SPPG wujud bangunan alat dapur perkantoran dan 2 unit kendaraan, lalu dapat laba disewa BGN Rp 155 juta/SPPG/bulan.
Cashflow tetap Rp 1,86 miliar/tahun. Return on Investment (ROI) 62%/tahun. Break Even Point (BEP) maksimal 20 bulan. Internal Rate of Return (IRR) 55 sd 58%/tahun. Ini peluang investasi sangat sehat. Makanya sekarang berebut yang mau investasi SPPG. Luar biasa semangat membangun mutu putra putri kita.
Mestinya Kementan juga meniru pola BGN ini agar bisa merangsang para investor swasta. Ingat pilar pertumbuhan ekonomi ada 4 utama yaitu konsumsi rumah tangga, belanja negara, investasi swasta dan surplus perdagangan internasional ekspor impor.
Salam Investasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630