Semalam saya dapat telepon dari sahabat. Profesinya importir kedelai jumlah besar dari Amerika Serikat. Baru panen, mutu bagus. Menawari kedelainya yang makin mahal saja harganya.
Sudah 3 kali ini dapat kesempatan agar ikut memasarkan agar harga kedelai tidak mahal. Jika mahal dampaknya harga tahu tempe andalan protein nabati Indonesia bisa kurang asupannya.
Andaikan saya mau sejak harga Rp 10.300/kg dan Rp 11.200/kg beberapa waktu lalu. Jika dijual saat ini harganya Rp 14.600/kg. Lumayan labanya. Karena portofolio harga pangan dunia terus meroket.
Padahal kita impor kedelai 3,2 juta ton/tahun. Andaikan mau memasarkan 1.000 ton/bulan atau 12.000 ton/tahun. Laba Rp 300/kg. Jelas dapat laba Rp 3,6 miliar/tahun. Hemm, enak tenan bisnis impor pangan di Indonesia.
Terlepas dari impor kedelai yang menguras devisa sekitar Rp 45 triliun/tahun. Sungguh tidak bisa dibayangkan jika tiada importir kedelai. Karena produksi dalam negeri hanya 23% saja dari total kebutuhan. Jadi rebutan.
Misal seperti sekitar 8 bulan lalu. Kedelai langka. Karena diborong total oleh Tiongkok, sesampai di negaranya disortir. Yang grade A dan B untuk pangan. Yang grade C untuk pakan ternak babi. Karuan neraca kedelai dunia goyah.
Dampaknya industri tahu tempe kelabakan. Tidak punya bahan baku. Industrinya di Indonesia terancam tutup dan puluhan ribu tenaga kerja terancam pekerjaannya (PHK). Termasuk mengancam protein nabati masyarakat Indonesia.
Sama halnya dengan 2 tahun silam. Karena covid 19 negara produsen gula Thailand, India dan Brasil lock down. Gula terlambat datang harga Rp 23.000/kg. Kontan inflasi naik tajam. Karena Indonesia impor gula 4,4 juta ton/tahun.
Tidak jauh beda dengan kisah impor sapi dari Australia. Akibat kebanjiran dan kebakaran di Australia. Tahun lalu ada sekitar 600.000 ekor sapi mati. Dampaknya populasi turun, stop sementara ekspor sapi.
Kita kelabakan harga sapi naik tajam. Saat bersamaan solusi yang diambil pemerintah justru impor daging kerbau dan sapi. Agar harga daging terjangkau. Hemm, sapi betina yang murah jadi sasaran jagal se-Indonesia. Populasi sapi turun.
Saat ini, karena jumlah produksi beras kita pas-pasan. Ditambah data tiada yang valid maka pemerintah impor 500.000 ton bulan ini juga. Guna cegah kekurangan beras. Spontan harga beras dunia meroket. Karena pasokan kurang, tapi permintaan naik tajam.
Ilmu hikmahnya, jika kita asyik happy dengan solusi jalan pintas impor pangan. Bukan memberdayakan masyarakat agar jadi produsen pangan buat bangsanya sendiri. Atau hanya solusi simptomatik. Non kausatif. Penikmatnya segelintir orang saja.
Dengan cara membangun SDM berjiwa pengusaha pangan inovatif yang didukung iklim usaha yang merangsang berpartisipasi. Sepanjang itu pula kita jadi pasar negara lain. Penikmat nilai tambahnya petani luar negeri.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630