Praktik usaha agro baik bertani dan beternak. Integrasi. Hulu hingga hilir. Merupakan kombinasi antara ilmu pengetahuan, teknologi dan hilirisasi inovasi. Kolektif melibatkan mental, intelektual dan spiritual.
Jika dunia pertanian hanya dipikirkan dan dibicarakan saja. Lalu berhenti sampai di situ saja. Tanpa praktik. Maka tak ubahnya hanya ilmu sastra pertanian saja. Karena hanya dibaca, didengar, dipahami dan dibahas.
Contoh :
1. Semua tahu masalah utama peternakan sapi Indonesia adalah kurang jumlah praktisi breeding, indukannya dipotong massal hingga 1,3 juta ekor/tahun dan biaya pakannya mahal.
Tapi sedikit yang melibatkan diri jadi praktisi breeding. Paham hafal teori breeding is leading. Membiakkan adalah memimpin masa depan. Tapi sebatas itu. Tanpa praktik lapangan.
Tetap memotong sapi betina produktif, para pemimpin tahu itu tindakan melawan KUHP bisa dipidana, tapi ” tanpa tindakan tegas ” menghentikannya. Masalah tanpa solusi.
Harga pokok produksi (HPP) mahal. Karena pakan mahal, 70% biaya ternak sapi, bersumber dari pakan. Tidak mau juga mempraktikkan inovasi agar pakan murah sehingga laba tambah.
Masih juga mencari pakan jauh dari kandang butuh BBM dan waktu jumlah panjang rutin. Hanya demi rumput alam dan rumput gajah biasa, kadar protein kasar (PK) maksimal 6%.
Tidak mau menanam di samping kandang hasil inovasi Pakchong, Zanzibar, Gama Umami yang kadar (PK) nya 16%. Padahal pakan bermutu dasar SNI kadar PK 14%, SK 20% saja. Bermutu, berlimpah dan tanpa ongkos kirim karena dekat palungan.
Jika feses urine disiram Bio Extrim dan Hormax jadi pupuk super. Jadi sumber pendapatan. Tapi tiada mau mempraktikkan. Caranya mudah demplot ( Demonstration Plot ) di sawah dekat jalan, lusa banyak yang antri pesan.
2. Fanatik sempit tidak produktif. Umumnya petani sawit dan tanaman kebun lainnya fanatik dengan hanya komoditas itu saja. Harapannya cuma satu saja pupuk murah dan harga jual panenan mahal.
Tahu teorinya, tapi jarang yang praktik integrasi sapi atau ternak lain di kebun. Agar saling menekan biaya produksi. Nol limbah. Agar HPP, biaya dibagi produksi jadi rendah. Laba tambah atau menang bersaing.
Menguasai ilmunya, masa 3 tahun pertama banyak gulma rumput liar hidup di antara pohon, sumber pengeluaran besar rutin. Tapi jarang mau praktik ditanam sorgum, rumput inovasi pakan sapi, pisang dan lainnya.
Padahal kalau mau praktik plus inovatif. Dari hasil tanaman sela saja sudah mengembalikan semua modal invest sawit dan tanahnya. Pisang bisa Rp 300 juta/ha selama 30 bulan. Tanaman lain juga begitu.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630