Tue. Jan 13th, 2026

Wayan Supadno

Artikel singkat ini perlu agar kita dapat ilmu hikmah. Cegah tangkal dengan mental setia dan menjaga persatuan maupun kesatuan. Agar minimal peluang negara lain main hakim sendiri dengan Indonesia. Kita harus bijak cerdas menyikapinya. Preventif lebih berarti dibanding kuratif.

Alasannya karena Indonesia sedang naik daun. Pemberantasan korupsi, penertiban tambang maupun sawit hingga penyelundupan, semua yang ilegal. Tentu banyak pihak berduit yang merasa terganggu rasa nyamannya selama ini. Berpotensi jadi pengkhianat bangsa kita skala besar.

Begitu juga dengan kebijakan swasembada pangan, hilirisasi pada berbagai komoditas Indonesia dan penguatan pertahanan. Tentu banyak negara yang tidak suka. Karena akan kehilangan bahan baku industrinya, jadi ancaman APBN nya. Ini sangat logis.

Operasi militer sunyi, senyap dan lenyap. Dalam konteks operasi penculikan/pengambilan paksa kepala negara, contoh kasus Venezuela. Istilah ini sering dipakai dalam doktrin operasi khusus militer. Saya netral dalam memandangnya.

1). Sunyi.

Operasi dirancang tanpa pemberitahuan resmi. Tidak ada deklarasi perang. Dilakukan di bawah ambang eskalasi terbuka. Dunia tidak tahu sebelum terjadi.

2). Senyap.

Minim suara politik, militer, dan media. Menghindari korban massal. Tidak merusak infrastruktur luas. Target tercapai tanpa “ledakan besar”.

3). Lenyap.

Target utama dihilangkan dari panggung kekuasaan. Ditangkap. Dilumpuhkan. Dipaksa keluar. Struktur kekuasaan lumpuh sesaat. Kekuasaan kehilangan pusat kendali.

Contoh konseptual operasi penculikan presiden (Venezuela). Dalam contoh ini, operasi bertujuan mengambil satu orang kunci, tanpa invasi besar dan tanpa perang terbuka. Ini disebut decapitation strategy (strategi pemenggalan kepemimpinan).

Keuntungan strategis bagi negara pelaku :

1). Efisiensi tinggi. Biaya lebih murah dibanding perang. Personel terbatas. Waktu singkat.

2). Minim korban sipil. Tidak menghancurkan kota. Tidak memicu kehancuran massal

3). Efek psikologis besar. Elite politik dan militer lawan shock. Rakyat bingung. Rantai komando terganggu

4). Menghindari perang terbuka. Tidak perlu deklarasi perang. Sulit dibalas secara simetris.

Dampak negatif negara target ;

1). Pelanggaran kedaulatan dan hukum internasional. Ilegal. Preseden berbahaya. Melemahkan tatanan global.

2). Efek bumerang politik. Negara target bisa bersatu melawan asing. Nasionalisme meningkat. Legitimasi internasional pelaku menurun.

3). Instabilitas jangka panjang. Kekosongan kekuasaan. Perang saudara. Fragmentasi elite.

4). Dunia menjadi lebih tidak aman. Jika ini “dinormalkan” semua pemimpin merasa terancam. Diplomasi melemah. Dunia masuk fase “hukum rimba geopolitik”.

Pelajaran strategis bagi Indonesia harus diwaspadai :

1). Perang modern makin sunyi.

2). Target bukan lagi negara, tapi individu kunci.

3). Informasi, intelijen, dan legitimasi jadi senjata utama.

Yang perlu diperkuat mental kesetiaan dan soliditas rakyat Indonesia agar tiada pengkhianatan jadi mata-mata negara lain. Keamanan kepemimpinan nasional. Intelijen strategis. Diplomasi multilateral yang kuat solid.

Salam Soliditas 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *