Berikut ini beberapa kisah nyata yang sangat bermanfaat untuk diambil ilmu hikmahnya. Proses pembelajaran dari kejadian masa lalu orang lain maupun diri sendiri. Sesungguhnya, betapa sangat sulitnya proses hilirisasi inovasi. Menjadikan hasil riset (invensi) terkomersialisasi agar jadi inovasi.
1. Kredit macet karena gagal inovasi.
Seorang pejabat bank umum cukup tinggi posisinya. Berkisah di bank yang dipimpinnya, angka NPL (Non Performing Loan), kredit tidak lancar sebagian macet di atas 2%. Sebab utamanya ada debitur jumlah banyak yang macet. Rumit hingga belasan tahun. Saling menyalahkan.
Lalu jadi sebab bank tersebut mengalami kesulitan, tidak bisa dilelang. Non marketable. Karena dana kredit tersebut digunakan untuk membiayai pembangunan industri yang produknya hasil riset (invensi). Hal telepon seluler. Pendek kata invensi gagal jadi inovasi, bahkan jadi sebab utang macet jumlah besar.
2. Pabrik tutup karena gagal di pasar.
Seorang sahabat sesama formulator pupuk hayati dan organik. Pada sekitar tahun 2010, produknya banyak beredar di pasar. Membakar uang besar – besaran. Semua distributor, agen dan toko pertanian diutangi. Dibayar setelah laku (konsinyasi). Semua macet akibat mutu dan mental.
Iklan dan promosi luar biasa besar anggarannya. Tidak masuk akal. Maklum pemilik usaha bermodal besar. Setahun berikutnya gulung tikar. Produknya tidak ada lagi di pasar sebagai kompetitor Hormax, Organox dan Bio Extrim, formula saya. Pabriknya tutup permanen.
3. Layu sebelum berkembang.
Seorang sahabat, terlalu percaya diri. Seolah produk inovasi terbaik di antara pesaing di pasar. Seolah produknya paling pertama pada segmen target posisi pasarnya. Menggalang dana besar – besaran dari masyarakat luas. Dengan berbagai macam cara pendekatannya.
Saya hanya tersenyum saja. Menunggu endingnya. Tidak sampai 2 tahun kelelahan sendiri. Pasar tidak bisa menerima produk inovasinya. Beragam alasan, harga pokok produksi (HPP) penggunanya, kualitas, kontinuitas dan ketepatan spesifikasi maunya pasar. Ujungnya angkat tangan juga.
4. Gagal hilirisasi, tersimpan di lemari.
Pada sebuah acara pameran invensi hasil riset/penelitian di sebuah lembaga. Banyak yang dipajang hebat semua, saya sangat kagum. Karena saya ditunjuk jadi koordinator dari semua undangan, tahu lebih banyak dan dapat penjelasan lebih rinci taktis dan teknisnya.
Ada salah seorang yang begitu agresifnya. Menawari agar kami mau jadi mitra hilirisasinya. Membiayainya. Saya tanya dari sekian banyak, mana yang paling feasible secara keekonomian dan mana yang sudah ada di pasar. Ternyata belum ada. Kami sebagai tamu kontan jadi loyo.
Dari kisah di atas, bisa diambil sebuah resume atau hipotesa betapa teramat sangat sulitnya proses hilirisasi invensi hasil penelitian agar terkomersialisasi bermanfaat luas di tengah masyarakat, agar jadi inovasi. Karena terkait maunya pasar dan harga pokok produksi (HPP), keekonomiannya, sehingga mampu bersaing atau tidaknya di pasar.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630