Thu. Jan 15th, 2026

Empiris.
Tahun 1994 s/d 1999, saya dinas militer di Rindam I/BB Pematang Siantar Sumut. Sebagai Komandan Tim Kesehatan Lapangan Dodiklatpur dan Guru Pelatih Militer.

Waktu mulai melakukan usaha sejak Januari 1995. Modal utang Primkopad Rp 700.000. Untuk beli Vespa Kongo (1964), Amplop Dokter anak lahir Rp 200.000 dan Modal Usaha Rp 100.000.

Komoditas yang saya kelola cangkang sawit, pinang, karung bekas, sekam padi, beras, kayu teh, batu kapur, ikan mas, pembesaran tanaman hias dan benih kacang – kacangan Pueraria Javanica (PJ) penutup lahan sawit.

Laba bersih tiap bulan ratusan juta. Hanya dari cangkang dan kapur pemutih pulp saja Rp 150 juta/bulan. Sehingga tahun 1999 pindah ke Pekanbaru Riau terkumpul deposito Rp 6,7 miliar dan kebun sawit di Kandis Riau.

Namun demikian, karena lingkungan bersahaja. Doktrin militer agar hidup bersahaja. Selama 2,5 tahun walaupun punya deposito Rp 3 miliaran. Saya tetap memakai Vespa Kongo 1964. Sepeda motor terjelek.

Terlalu sering disindir, kok tidak malu jadi perwira sepeda motornya terjelek se-Rindam I/BB. Saya tersenyum. Bagi saya bukan masalah. Hanya tahu diri saja, sebagai perwira junior. Sekalipun andai beli Mercy, Jeep, BMW dan lain bisa.

Mendingan pura – pura miskin saja. Toh komandan tahu. Hingga kadang kalau latihan tempur berganda di hutan kadang memanggang kambing, saya juga donaturnya. Untuk kebersamaan. Suasana itu teramat nikmat. Selalu kurindukan.

Strategi pura – pura miskin. Konkret mampu infiltrasi sunyi senyap jika mengantar invoice ke pabrik kertas raksasa di Porsea. Jadi vendor cangkang sawit, sekam padi dan batu kapur. Sering hanya numpang truk saja. Sekalipun nilai invoice ratusan juta.

Saat itu truk tronton yang saya gerakkan milik Bu Mariana dan Hong Lie. Jumlah 40-an unit. Karena tiap hari harus 4 tronton 110 ton cangkang sawit dan 25 ton kapur 1 unit tronton. Karena kontrak suplai (PO/ Purchase Order ) cangkang 3.000 ton/bulan dan kapur 500 ton/bulan.

Ilmu hikmahnya :

1. Sekalipun modal awal hanya utang Rp 100.000 ke Primkopad terbukti 5,5 tahun bisa punya kebun sawit di Riau dan deposito Rp 6,7 miliar. Caranya menjualkan barang dagangan orang lain. Membelikan barang dagangan orang lain. Menggerakkan truk orang lain.

2. Sekalipun sibuk ke kantor dan sering ke hutan latihan militer. Usaha tetap berjalan dengan baik. Terkendali semua produktif. Caranya leadership bagi divisi/komoditas memakai para orang pintar yang punya banyak waktu. Diberi kemerdekaan berkarya, bagi hasil dan apresiasi moril materiil.

3. Strategi taktis pura – pura miskin. Bagian dari upaya agar adaptif dengan maunya pasar yaitu masyarakat yang bersahaja. Ternyata tidak jadi hambatan. Toh yang tahu riilnya aset produktifnya adalah diri sendiri. Toh mampu tetap konsisten disiplin tinggi seperti lainnya sesuai tuntutan tugas kesatuan.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *