Wed. Jan 14th, 2026

Prevalensi stunting malnutrisi utamanya karena kekurangan protein hewani, saat ini 20,6%, 11 tahun silam 37%. Ideal negara maju 2% saja. Salah satu sebabnya harga daging sapi termahal di Asean dan daya beli rendah.

Harga daging sapi “terlalu mahal” karena permintaannya terlalu banyak tumbuh 6,4% dan pasokan dalam negeri sangat kurang, tercermin tumbuhnya pasokan cuma 1,3% saja. Wajar impor makin besar, 66% dari kebutuhan nasional.

Karena defisit indukan sapi 7 juta ekor. Akibat dari pemotongan massal sapi indukan tiap hari. Korban PMK dan LSD. Impor legal ilegal daging beku yang murah dari India. Kumulatifnya terjadi depopulasi sapi 2,45 juta ekor (BPS 2024).

Berbanding terbalik dengan di Australia jumlah sapi 36 juta ekor atau setara 300% dari sapi Indonesia hanya 12 juta ekor. Tapi penduduk Australia hanya 26 juta atau setara dengan 9% penduduk Indonesia 280 juta jiwa.

Sekalipun Indonesia penghasil bahan pakan utama sapi kaya protein kasar 16% dan serat kasar tinggi, yaitu bungkil sawit 8 juta ton/tahun. Belum bungkil kelapa. Sayangnya kita ekspor jutaan ton masih wujud bahan mentah.

Solusinya yang patut dipertimbangkan oleh pemerintah ;

1). Stop Ekspor Bungkil Sawit dan Kelapa.

Kita “belum konsisten” dengan program hilirisasi. Diekspor ke Selandia Baru ditukar dengan susu. Diekspor ke Australia ditukar dengan sapi. Mereka dapat nilai tambah, lapangan kerja dan lainnya. Ini sangat lucu. Pakan berlimpah dijual murah.

Wajar kesejahteraan masyarakat Australia 13 kali Indonesia dan Selandia Baru 9 kali Indonesia. Terlihat PDB/kapita Australia USD 64.400 dan Selandia Baru USD 48.700. Padahal PDB/kapita Indonesia hanya USD 5.290. Laba mereka besar sekali.

2). Stimulus Importir Sapi Betina dan Peternak Sapi.

Kerugian kita hilangnya kesempatan selama ini impor sapi hidup dan daging beku minimal habis devisa Rp 60 triliun/tahun. Setara bisa jadi lapangan kerja 1 juta KK peternak Indonesia, jika butuh Rp 60 juta/KK/tahun.

Harus impor sapi betina produktif 7 juta ekor. Agar importir semangat maka butuh stimulus bunga bank 6% seperti KUR selama ini. Agar mereka jual ke masyarakat peternak juga murah. Agar serapan KUR di bank juga optimal.

Kalkulasinya, jika Rp 6 triliun/tahun bunga bank subsidi APBN maka bisa menyerap KUR sebanyak Rp 100 triliun setara dengan 7 juta ekor sapi betina dara. Dengan begitu 3 tahun lagi anaknya 6 juta ekor jantan betina, jantan saja 3 juta ekor. Akan nol impor.

Efek dominonya akan tercipta lapangan kerja minimal 1 juta KK peternak, rumah potong hewan (RPH) kembali hidup yang selama ini banyak mangkrak menyerap ribuan tenaga kerja dan rantai pasok lainnya. Daya beli naik. Stunting berkurang.

Ilmu hikmahnya, dengan kebijakan memberi stimulus kepada pelaku usaha sapi mulai importir sampai peternak breeding. Maka ekosistemnya menarik. Banyak investornya. Bisnis sapi dan daging jalan. PDB/kapita akan naik, pertumbuhan ekonomi tumbuh.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *