Wayan Supadno
Berikut ini kejadian bencana alam banjir bandang longsor yang akan menjawab secara hati nurani dan logis. Utamanya dari negara penghasil minyak nabati kedelai dan bunga matahari lawannya sawit. Itu misi kampanye hitam perang dagang. Sawit tulang punggung ekonomi Indonesia.
1). Bencana alam banjir bandang longsor karena “siklon tropis senyar” bukan cuma Aceh, Sumut dan Sumbar saja. Tapi di India, RRT dan Srilanka juga kena banjir longsor padahal ketiga negara tersebut tanpa punya sawit. Di dalam negeri di Bali, Jember dan lainnya juga serupa.
2). Sebaliknya di Lampung bahkan Riau pemilik kebun sawit terluas di Indonesia tanpa banjir bandang longsor. Di Kalbar dan Kalteng tiada bencana seperti di Aceh dan Sumut, padahal sawitnya jutaan hektar. Jutaan manusia hidupnya dari sawit. Cetak devisa Rp 630 triliun/tahun.
Sawit si kambing hitam” artinya kelapa sawit sering dijadikan pihak yang disalahkan (kambing hitam) setiap kali terjadi bencana lingkungan terutama banjir bandang padahal penyebabnya tidak tunggal dan sering kali lebih kompleks.
Sawit kerap dituding sebagai penyebab utama. Sementara faktor lain seperti HGU HTI (Hutan Tanaman Industri), pertambangan (batubara, nikel, emas), pembalakan hutan alami baik legal maupun ilegal maupun pembangunan jalan dan drainase buruk,
Tanpa jadi Si Kambing Hitam.
“Sawit bukan otomatis penyebab banjir bandang”.
Banjir bandang umumnya terjadi karena:
1). Hilangnya hutan alami di hulu DAS (Daerah Aliran Sungai).
2). Perubahan tata guna lahan masif dan cepat.
3). Tanah terbuka tanpa konservasi, tanpa resapan air sama sekali, bagai gurun saja.
4). Curah hujan ekstrem misal siklon tropis senyar yang terjadi di Sumatera.
5). Aktivitas tambang terbuka paling cepat merusak struktur tanah.
Fakta penting yang sering diabaikan ;
1). Di banyak wilayah Sumatera dan Kalimantan, terdapat perkebunan sawit puluhan tahun tanpa banjir bandang.
2). Justru banjir bandang sering muncul di daerah dengan HTI monokultur skala besar.
3). Tambang terbuka (tanah telanjang) tanpa vegetasi resapan air.
4). Kombinasi tambang, sawit dan HTI. Tapi sawit yang disalahkan sendirian.
5). Masalahnya bukan sawit semata, tapi tata kelola lahan dan kebijakan HGU yang salah.
Menyalahkan sawit saja itu penyederhanaan berlebihan dan bisa menyesatkan solusi.
Empiris, saya menyaksikan sendiri hingga saat ini jika kita mau beli kayu meranti, ulin, gaharu hingga 1 kapal sekalipun bisa dilayani justru oleh oknum petugas penjaga hutan. Masih diperdagangkan besar-besaran. Padahal ini pelanggaran berat. Tapi jika ada bencana karena itu, Sawit jadi Kambing Hitamnya.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630