Thu. Jan 15th, 2026

Yang kesekian kalinya, kita sungguh patut bersyukur diberi anugerah oleh Tuhan. Saat ini, kebun kelapa sawit Indonesia terluas di dunia, yang saat ini 16,8 juta hektar (BPS). Dengan produksi 47 juta ton CPO/tahun, terbanyak di dunia. Menyalip Malaysia yang beberapa puluh tahun silam kita kalah.

Sejarah kelapa sawit berasal dari negara Negeria, ditemukan di tengah hutan belantara oleh Nicholas Jacquin tahun 1763. Kelapa sawit 100% tanaman hutan. Tahun 1848 dibawa ke Indonesia oleh Mauritius Amsterdam warga Belanda. Hanya 4 biji ditanam di Kebun Raya Bogor.

Di masa depan, sekalipun sawit tanpa perluasan tanam tapi jumlah produksinya akan terus meningkat tajam. Seiring makin luas tanam karena peremajaan memakai benih legal hasil riset atau inovasi dari Pusat Penelitian (Puslit) baik milik negara PPKS Medan, maupun Puslit milik swasta.

Potensi jumlah produksi tahun 2030, sekitar 60 juta ton CPO/tahun. Atau naik sekitar 27,6% dari saat ini. Berkat inovasi membumi benih DXP Tenera yang punya potensi 33 ton TBS/ha/tahun dengan rendemen CPO 26% dari TBS nya. Tidak sulit untuk 4 ton CPO/ha/tahun jika 15 juta hektar yang produktif normal sudah tercapai.

Saat tahun 2030 jumlah penduduk Indonesia sekitar 300 jutaan jiwa, dengan usia produktif 15 sd 64 tahun sebanyak 60 % dari total penduduk. Artinya yang saat ini masih remaja ” harus menyadari ” betapa sangat besarnya peranan sawit sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia di masa depan.

Kalkulasi logisnya, yang saat ini hanya 47 juta ton CPO/tahun saja. Sudah berkontribusi pada cetak devisa Rp 635 triliun/tahun karena ekspor produk turunan sawit, ekspor CPO hanya 7% saja. Karena katalis Merah Putih Inovasi Prof Subagjo (ITB) jadi Biodiesel B35 hemat devisa Rp 63 triliun/tahun, berkat non impor solar fosil.

Apalagi saat ini telah dikembangan bukan dari CPO tapi dari Kernel Inti Sawit jadi Bioavtur. Maskapai Garuda Indonesia telah mengujinya. Juga telah mulai dibangun kilang besar – besaran bukan hanya di Dumai Riau saja. Sawit akan jadi Bioavtur dan Bensawit. Akan menstabilkan harga dan pasokan energi di Indonesia yang ramah lingkungan.

Kebijakan pemerintah, dengan adanya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) lebih leluasa dalam pengelolaan sawit yang dominan lahan Hak Guna Usaha (HGU), artinya tanah milik negara. Sehingga sedapat mungkin maksimal daya manfaatnya untuk kesejahteraan seluruh Rakyat Indonesia.

Artinya BPDPKS akan membuat Pungutan Ekspor jumlah tertentu agar harga TBS antara Rp 2.000 sd Rp 2.500/kg di PKS. Harga ini labanya sudah cukup, investor sudah ” cuan sehat ” bankable. Jika CPO harga naik maka dipotong oleh BPDPKS untuk subsidi B35, Bioavtur dan Bensawit agar semua produk Indonesia kompetitif.

Kepemilikan sawit, Kawula Muda utamanya harus tahu sebenarnya. Bahwa sawit Indonesia bukan hanya milik Asing atau Taipan saja, seperti yang diberita opini hoax selama ini. Total luas sawit 16,8 juta ha, di dalamnya milik petani 6,8 juta hektar, milik PTPN (BUMN) 659.000 hektar.

Selain itu juga perlu tahu bahwa milik pengusaha putra Indonesia H Rasyid, H Isam, Jendral Wijoyo Suyono, DL Sitorus dan pengusaha menengah skala ribuan hektar tidak kurang dari 3 juta hektar. Milik BUMN Malaysia karena menyelamatkan BLBI talangan dana BCA saat kena rush tahun 1998 minimal 1,3 juta hektar.

Kesimpulan, Kawula Muda hendaknya lebih teliti dan jeli melihat sawit apa adanya. Anugerah Tuhan yang mana lagi, yang mau kita dustakan ? Jangan sampai terpapar berita hoax kampanye negatif negara penghasil bahan bakar nabati sebagai kompetitor, lalu memusuhi sawit. Dampaknya seperti kelapa jadi rusak semua, kampanye negatif tahun 1995 katanya sumber penyakit, tapi faktanya saat ini kelapa idola dunia.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *