Dengan rendah hati, saya selaku sesama peternak turut prihatin kepada sesama peternak sapi yang dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Yang saat ini ada ribuan ekor tidak terserap oleh pasar. Saat Idul Adha beberapa hari lalu. Para peternaknya pada panik.
Wajar pada panik, karena tidak ada kandang dan hijauan sumber pakan. Ini berdampak biaya rawat Rp 20.000/ekor/hari. Artinya persis lumpur hidup, lama mentasnya maka makin dalam masalahnya. Itulah sebuah risiko dalam berusaha/berbisnis.
Menurut data Badan Pangan Nasioal tertera dalam undangan Zoom Meeting semalam, ada 13.000 ekor. Setara dengan dana Rp 200 miliar. Tentu juga milik banyak peternak. Juga biasanya sebagian memakai dana KUR Bank. Psikologi dan ekonomi peternak kena keduanya.
1. Sebabnya.
Pasokan melampaui permintaan. Sapi impor dan daging kerbau impor banyak stok. Idul Adha pada tahun lalu sapi dari NTB 21.000 ekor, tapi tahun ini 28.000 ekor yang masuk ke Jabodetabek. Padahal lazim pertumbuhan permintaan hanya 3%/tahun. Berbanding terbalik.
Menurut peraturan daerah, sapi jantan yang boleh keluar dari NTB bobot minimal 250 kg/ekor. Tapi fakta lapangan di lapak banyak yang di bawah 200 kg/ekor. Otomatis merebut pangsa pasar sapi bobot di atas 250 kg/ekor. Ini sangat merugikan peternak. Masa penggemukan.
2. Alternatif Solusinya.
Diatasi secepatnya. Ikan sepat, ikan gabus. Makin cepat, makin bagus. Karena jika lambat biaya makin bengkak dan sapi makin stres dipajang bukan di kandangnya atau umbarannya. Kurus sekali, biaya untuk mengembalikan normal besar sekali.
Tidak boleh dibawa pulang ke Prov. NTB. Karena masih bebas penyakit LSD ( Lumpy Skin Disease). Yang punya daya tular sangat dahsyat (empiris). Begitu terjangkit LSD maka hitungan hari bobotnya turun drastis. Padahal di NTB ada 1,4 juta ekor sapi. Jika terjangkit ruginya trilunan rupiah.
Pemilik sapi harus sadar bahwa ini darurat. Makin ditunda maka makin bermasalah. Harus dibedakan harga dibanding saat Idul Adha. Mendingan rugi sedikit tidak apa, asal segera teratasi laku terjual. Digemukkan peternak lain non NTB. Segera bisa mengurus sapi di rumahnya lagi.
Pemerintah hendaknya menempatkan diri jika jadi peternak. Ingat mereka telah berbuat nyata untuk bangsanya, berpartisipasi meminimalkan stunting kurang protein hewani untuk kebaikan negerinya. Harus diapresiasi dan diperhatikan cepat dengan solusi konkret lapangan. Jangan ditunda lagi.
Contoh, dari pada dibawa pulang ke NTB lalu LSD meledak. Habis APBN triliunan untuk mengatasinya dan vaksinasi berikutnya. Mendingan dijembatani subsidi harga agar ada titik temu, karena sapi sudah mulai kurus. Psikis. Tentu beda jauh harga dibanding sapi normal.
Begitu juga jika dibeli oleh peternak Lampung atau Kalimantan. Hendaknya juga dapat atensi khusus kemudahan legalitasnya. Butuh percepatan dalam administrasinya. Butuh pendampingan di Karantina Pelabuhan dan lainnya. Inilah hakikat ASN, sebagai pelayan masyarakat usaha.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630