Setiap hari berita di televisi, media sosial dan pertemuan masyarakat. Pada lagi ” mabuk politik “. Sangat bisa dipahami karena memang tahun politik. Sayangnya masih ada yang suka olok – olokan dan bukannya membahas programnya ke depan yang ” konkret terukur ” nya.
Saya pribadi juga dapat undangan dari Tim Sukses dari ketiga Capres Cawapres. Pemaparan apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat petani Indonesia, dari kaca mata saya selaku praktisi. Karena saya masih suka netral maka saya sodorkan permasalahan dan alternatif solusinya.
Berikut ini beberapa permasalahan prioritas yang bijaknya dapat solusi konkret terukur bisa dikaji ulang capaiannya. Masalah – masalah tersebut sangat erat kaitannya terhadap dampak kebijakan politik makro, hasil kinerja Politisi yang akan kita pilih bersama.
- Pengangguran, Kemiskinan dan Stunting.
Data BPS, jumlah pengangguran 5,45% kemiskinan 9,36% dan jumlah stunting masih 21,4%. Sebuah negara jumlah pengangguran akan ” selalu berbanding terbalik ” dengan jumlah pengusaha pencipta lapangan kerja. Jika banyak pengangguran, pasti sedikit jumlah pengusaha pencipta lapangan kerja lokomotif perekonomian.
Lalu, apa strategi konkret terukur yang hendak dijalankan oleh Capres Cawapres agar terlahir banyak pengusaha Indonesia. Minimal di atas Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam yang 4% s/d 5% dari penduduknya. Jika mau ditargetkan 5%, karena saat ini hanya 3,47% berarti kurang 1,53% lagi atau setara 4,12 juta.
Kalkulasi logisnya jika tambah pengusaha 4,12 juta lalu cipta lapangan kerja 10 orang saja/pengusaha. Maka menyerap 4,12 x 10 orang = 41 juta pengangguran dan TKI yang saat ini total 9 juta orang (Kemenlu). Dengan begitu pendapatan perkapita 41 juta orang akan terdongkrak nyata.
- Mirisnya Masyarakat Pertanian.
Data BPS, jumlah petani 40 juta, jumlah angkatan kerja 29,8% tapi yang dikategorikan miskin dan rentan miskin ada 49,8%. Karena pendapatan rata – rata hanya Rp 2,21%/bulan. Sebab utama minimnya kepemilikan aset produktif. Misal pemilik sawah 0,3 ha/KK ada 14 juta KK (Sensus Pertanian).
Lalu, strategi apa yang mau dijalankan oleh Capres Cawapres idola kita agar indeks sawahnya 3 ha/KK, sehingga pendapatan bisa Rp 22 juta /bulan ? Jika tidak bisa mengurai masalah mendasar ini. Maka tidak mustahil kemiskinan di masyarakat petani akan tetap turun temurun ke anak cucunya.
Sebaliknya, jika petani yang ada pada sejahtera karena kepemilikan lahan bisa lebih luas. Dengan cara kredit subsidi kepemilikan sawah. Maka akan berdampak pada moril tinggi untuk produktif nuansa inovasi. Jumlah impor pangan terkurangi, yang saat ini tembus Rp 400 triliun/tahun. Anak muda juga semangat meneruskan profesi petani.
- Inovasi Belum Membumi.
Indeks inovasi global kita masih peringkat ke 75 dan indeks kompleksitas ekonomi peringkat ke 61 dari 132 negara. Sebanyak 87% hasil penelitian yang tersimpan di lemari dan hanya 13% hasil penelitian yang jadi inovasi membumi di pasar komersil. Ini multi sebab.
Bisa jadi karena invensinya tidak feasible jadi inovasi atau karena iklim hilirisasi belum menarik. Jika dilihat dari mata keekonomian maupun persaingan di pasar tidak logis bisnis. Implikasinya harga pokok produksi (HPP) produk Indonesia tergolong tinggi. Lalu cemas jika ada barang impor datang.
Lalu, apa strategi yang ditawarkan oleh Capres Cawapres mengatasi itu ? Ini sangat penting karena triliunan anggaran penelitian, jadi tiada arti dan sangat boros tersistematis untuk APBN keringat rakyat kita. Tanpa inovasi membumi, maka usaha akan mati kalah kompetisi. Kolektifnya mengancam kemandirian bangsa.
Kesimpulan, saatnya kita dewasa dalam berpolitik. Jeli dalam memilih calon pemimpin. Memilih wakil kita jadi pemimpin, bukan seperti ” mencarikan lapangan kerja ” bagi mereka saja. Harus yang tahu masalah sebenarnya dan tahu pula mengatasinya dengan leadership mengendalikan para ahli di sekelilingnya.
Saling olok – olokan sesama anak bangsa, itu tidak dewasa kuno dan kampungan !
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630