Indonesia resmi jadi negara ekonomi terbesar ke – 7 dunia, menyalip Inggris dan Perancis. Itulah yang dirilis oleh Dana Moneter Internasional (IMF) bulan Oktober ini.
Sungguh patut disyukuri dan terima kasih kepada pemerintah atas kerja kerasnya. Mengantar bangsa ini melejit maju makin terdepan. Makin terhormat di mata dunia.
Ilmu hikmahnya, bukti konkret di balik ancaman selalu menghadirkan peluang. Sekaligus menunjukkan peluang bersifat kekal, bagai energi. Asal bisa menangkap dan memberdayakannya.
Hukum kekekalan peluang berlaku skala global, makro hingga mikro. Begitu juga krisis 2023, akan muncul orang kaya baru (OKB). Karena tahu dunia butuh pangan dan energi jumlah besar, lalu cepat memproduksi.
Bahkan pasti akan muncul pengusaha pemula baru, bisa jadi mantan karyawan yang dirumahkan. Lalu adaptasi cepat. Bereaksi. Tanpa tunda. Gagal diulangi, dengan langkah lebih sempurna lagi.
Skala negara, Indonesia. Perang Rusia Ukraina pasti berdampak mengganggu produksi pangan dan energi dunia. Juga distribusinya. Jadi mahal. Dimainkan hilirisasi sawit, nikel, tembaga, bauksit dan lainnya.
Karenanya, Indonesia dapat nilai tambah luar biasa besarnya. Bisa 23 kali lipatnya. Dulunya nilai tambah itu dinikmati negara lain. Mereka pada gigit jari semua. Pendapatan negaranya tergerus dalam.
Bagai neraca balon saja, di negara lain balon rezeki dikempesi. Pindah udaranya menggelembungkan balon rezeki pindah ke Indonesia. Lagi – lagi kekekalan peluang bagai energi. Abadi tiada akhir. Asal cerdas saja.
Contoh lagi kontributor Indonesia jadi negara ekonomi terbesar ke 7 dunia. Jalan tol dan pelabuhan dibangun massal. Praktis perpindahan barang antar daerah makin cepat dan murah. Menekan biaya produksi, produk makin kompetitif lagi.
Apa implikasinya bagi rakyat Indonesia ?
1. Karena gini rasio (kesenjangan ekonomi) kita tergolong tinggi. Bagi yang kena dampak dirumahkan akibat kerja di industri yang produknya diekspor ke negara kena krisis. Maka akan tertinggal makin jauh.
Apalagi jika tanpa mau memulai improvisasi diri (ngembang cari akal) mengisi besarnya potensi pasar pangan dunia, khususnya Indonesia. Karena tiada yang tahu kapan resesi akan berakhir.
2. Makin inovatif hal mutlak agar kompetitif lalu lestari usahanya. Efisiensi tenaga kerja bukan lagi wacana belaka. Adanya teknologi, robotik dan drone misalnya. Nyata jadi pesaing tenaga kerja.
Contoh, dulu muat sawit tenaga kerja manusia Rp 25.000/ton. Setelah memakai Loader maksimal Rp 5.000/ton. Hemat Rp 20.000/ton. Bisa 100 ton/hari atau 35.000 ton/tahun, setara hemat Rp 700 juta/tahun. Bisa buat beli lagi 2 unit. Berkat adaptif inovasi.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630