Tue. Mar 3rd, 2026

Apa pun status sosialnya, saya pastikan ngenes kalau melihat para peternak dari Bima NTB bersama sapinya, ribuan ekor yang saat ini masih di Jabodetabek. Karena tidak terserap oleh pasar saat Idul Adha. Data Bapanas 13.000 ekor yang dilaporkan.

Baru sebagian yang dibeli oleh para peternak Lampung dan lainnya. Beberapa truk maunya kembali ke Bima NTB, sesampainya di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, ditolak Karantina. Karena di Prov. NTB masih negatif (steril) dari penyakit LSD (Lumpy Skin Disease).

Mencegah penularan dari Jawa yang sudah positif LSD dan PMK. Bisa triliunan korban APBN jika terjadi, karena populasi sapi di NTB 1,4 juta ekor. Beda halnya kalau dikirim ke Lampung atau Pangkalan Bun Kalteng yang sudah positif LSD dan PMK.

Selama 3 hari ini, saya fokus ikut memikirkan dan membuat langkah nyata lapangan mengurai masalah tersebut. Yang bersifat ” sangat darurat “. Karena  kesehatan peternak penunggu sapi dan kesehatan ternaknya. Masa sewa lahan lapaknya sudah habis.

Tiap hari HP saya dan Reni staf saya, puluhan kali ditelepon oleh para peternak. Tidak jarang sambil menangis. Memohon agar sapinya juga ikut kami beli. Asal cepat saja, karena sudah diusir oleh pemilik tanah, biaya hidup peternak dan ternaknya terus membengkak.

Terjadi karena sulitnya mencari pakan di Jabodetabek. Wajar kalau sapinya makin kurus. Para peternak pada panik. Karena dibawa pulang tidak boleh, dijual tidak ada yang membeli jumlah besar dan pengeluaran tiada bisa direm.

Saya pun bersama peternak lain di Pangkalan Bun yang target membeli 1.300 ekor akhirnya gantian pusing juga. Karena mau dikirim ke Pangkalan Bun Kalteng rencana diumbar di kebun sawit. Terasa ” terlalu sulit ” prosedurnya. Sekalipun ” situasi sangat darurat “.

Dalam hati saya, wajar pelaku usaha di Indonesia sangat sedikit kalah jauh dari Thailand, Malaysia, apalagi Singapura. Karena iklim usaha kita sangat jelek. Saya sangat kelelahan mengurusnya bersama staf – staf saya. Persis ” bola pingpong ” saja.

Seolah tidak butuh investor dari pelaku usaha. Tidak butuh ekonomi tumbuh meniadakan stunting, karena sapi solusi konkret meminimalkan stunting kurang protein hewani. Jika ini berlarut maka saya pun malas berbuat memberi solusi ini.

Sisi lain, di Jakarta sendiri perusahaan – perusahaan milik BUMN stoknya masih penuh dari impor. Apalagi Bulog, saat Zoom Meeting melaporkan stok full daging kerbau impor. Harga juga tidak cocok. Hingga para tokoh masyarakat Bima pada datang rombongan ke rumah saya di Cibubur. Inilah soal sesungguhnya.

Sekali lagi, butuh keikhlasan hati. Butuh kesadaran para pemimpin dan masyarakat melibatkan diri jadi solusi konkret lapangan. Butuh melihat para peternak sapi bersama sapi – sapinya di pinggiran jalan Jabodetabek, dengan mata hati. Kembalikan ke diri sendiri (Tat Twam Asi).

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *