Empiris.
Walaupun tadi pagi, saya masih di Pangkalan Bun Kalteng. Tapi hari ini sudah di Bali. Reuni SMAN 1 Singaraja Bali. Bersilaturahmi. Ini penting dan bermanfaat. Terlebih ada kegiatan sosial kemanusiaan.
Mengenang masa lalu. Tahun 1984, saya lulus SMPN Kalibaru Banyuwangi. Saat itu sistem NEM. Dapatlah urutan ke 2 di kelas saat lulus. Daftar di 2 SMAN lulus semua, di Banyuwangi dan Singaraja Bali. Memilih di SMAN 1 Singaraja.
Walaupun jauh dari kampungku di Curah Jati Banyuwangi Selatan. Alasannya SMAN 1 Singaraja tertua di Bali dan NTB. Pasti lebih baik. Pasti soal – soalnya lebih sulit. Ternyata benar. Sering mengatasi kesulitan soal dan lainnya.
Ingat persis, lulus SMP juara 2. Tapi semester 1 SMAN 1 Singaraja rangking 47 dari 47 siswa. Luar biasa perbedaannya. Akibat beda STP ( segmenting, targeting & positioning ) ibarat strategi pemasaran sebuah produk. Tidak kompetitif.
Ilmu hikmahnya ;
1. Ternyata bisa hampir terbaik di tempat lama, belum tentu bisa bersaing di tempat baru. Apalagi jika persaingan di pasar sangat ketat. Bahkan pasar pun tidak menyerap. Produk tidak laku. Ditolak pasar. Kalah telak. Itu ibarat produk/komoditas.
2. Sakitnya di sini. Di dalam dada ini. Atau tepatnya di dalam hati sanubariku. Sakitnya karena dapat perlakuan tidak nyaman. Tatapan mata orang – orang di sekitar. Cara bibir mereka berbicara. Persis seperti ditimbang. Diukur. Ecek – ecek. Sakit, teramat sakit sekali.
3. Karena sering kali membuat kesalahan. Salah memberi jawaban baik lisan maupun tulisan saat ujian. Lama kelamaan pasar/publik ” tidak percaya “. Beban sangat berat untuk mengembalikan agar bisa dipercaya lagi. Guru pun tidak enak melihatnya, apalagi sesama siswa.
4. Sekali lagi, tidak dipercaya publik itu teramat sakit. Apalagi jika tidak dipercaya sesama siswa. Sama persis sakitnya saat jadi pebisnis tapi tidak dipercaya oleh sesama pebisnis. Setelah dewasa tahu arti sebuah kepercayaan nama baik. Teramat besar nilai dan manfaat dari kepercayaan.
5. Harusnya dana cair cepat. Misal pinjam dana Rp 100 juta cukup m-banking, tapi pakai lama harus ada kajian dan jaminan BPKB atau SHM rumah. Harusnya pesan barang dikirim cepat, tapi pakai lama karena ragam sistem pengamannya karena tidak dipercaya. Kepercayaan tercipta tidak semudah membalikkan telapak tangan.
6. Kepercayaan lahir dengan proses teruji berulang kali oleh banyak pihak. Butuh waktu lama. Dengan bukti baru terkristal mulai dipercaya. Kelas 1 SMAN 1 Singaraja dapat rangking 47 dan 24. Kelas 2 rangking 12 dan 10. Kelas 3 rangking 3 dan 1. Barulah publik berpihak. Karena percaya. Karena proses panjang.
7. Bisnis pun sama persis. Tiada pebisnis pemula langsung bisa dipercaya oleh mitra usaha. Dilihat dan dikaji pengalamannya, rekam jejaknya dan pendapat para mitra bisnisnya. Akan menyimpulkan pantas dipercaya atau belum. Terus dan terus seperti itu. Butuh serius menjaga nama baik agar dipercaya.
Kesimpulannya, saat SMAN 1 Singaraja kelas 1 saya rangking 47 dari 47 siswa. Jika ada soal dijawab benar pun masih diragukan oleh publik, karena tiada kepercayaan. Sebaliknya saat kelas 3 juara 1, saat ada soal dijawab belum tentu benar pun, sudah banyak yang mau meniru. Karena percaya. Karena proses panjangnya.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630