Tue. Mar 3rd, 2026

Remediasi adalah sebuah teknologi untuk mengembalikan kesehatan dan kesuburan lahan pertanian. Ini dianggap jalan pintas mendongkrak produktivitas pangan. Juga sudah dibuktikan banyak negara. Demi pangannya aman.

Yang menerapkan remediasi adalah negara tandus seperti Israel, Ethiopia, Tiongkok dan Timur Tengah. Bahkan beberapa bulan silam saya dapat undangan diajak misi remediasi di Brunei Darussalam. Apresiasi jasanya besar, tapi saya belum minat.

Banyak kisah inspiratif di google wujud video. Lahan tandus bisa jadi sehat subur. Jadi hutan, kebun dan sawah. Itu semua yang mengilhami saya juga selalu terus konsisten melakukan proses remediasi. Di manapun juga saya bertani. Ini sikap penting dan strategis.

Sebanyak apapun airnya agar bisa tanam berulang kali, sedekat apapun jalan pendukungnya agar ongkirnya murah dan sehebat apapun benihnya agar panen berlimpah. Nyaris tiada berarti jika lahannya tandus dan endemis hama penyakit.

Lahan sawah Indonesia sakit kronis. Pendapat Prof. Iswandi Anas Pakar Tanah dari IPB University ada 72% sawah di Indonesia sakit kronis. Indikasinya kadar C Organik hanya di bawah 2%, idealnya 4% padahal itulah nyawanya tanah. Media biak mikroba, flora dan fauna.

Itu semua akibat modernisasi pertanian sejak 1980-an. Hanya memakai pupuk kimia NPK saja. Padahal tanaman butuh 16 unsur hara, 3 di dalamnya dari udara. Sisanya terlengkap 13 unsur dari bahan organik. Tidak dijaga neraca haranya.  Tidak hanya butuh 3 unsur hara N, P dan K saja.

Sehingga demi produktivitas tinggi butuhnya NPK makin naik tajam per tahunnya dalam luasan sama. Implikasinya biaya naik tajam laba makin tergerus. Hama penyakit banyak. Petani makin tipis labanya, jika tanpa pupuk subsidi. Lalu berpaling ke profesi lainnya.

Itulah sebabnya, sejak saya bertani tahun 2008, ” tiada pernah ” mau memakai pupuk NPK subsidi. Anggapan saya itu hanya akan merusak karakter saya, enggan berinovasi di lapangan. Ketergantungan secara emosional non rasional. Tidak suka.

Cara saya ?

Lahan 1 hektar. Pada pra tanam tiap 2 tahun sekali. Saya hampar 20 ton pupuk kandang, ditabur dolomit agar pH netral 200 kg. Lalu ditraktor agar naik homogen merata. Disemprot Bio Extrim biang mikroba agar berbiak massal :

1. Menambat N yang ada di udara hingga 78% karena di dalam Bio Extrim ada Azospirillum, Azotobacter, Rhizobium. Berkoloni tinggi 10 pangkat 9. Sehingga butuhnya Urea sangat sedikit. Hemat.

2. Melarutkan P dan K sekaligus sebagai biopestisida. Karena dalam Bio Extrim mengandung Bacillus, Pseudomonas, Aspergillus Niger dan Trichoderma. Hemat KCl, TSP dan pestisida.

Setelah ditabur pupuk kandang 20 ton, dolomit 200 kg, ditraktor lalu disemprot 20 liter Bio Extrim dan Hormax. Setelah 3 minggu ditanam. Akan JOSS GANDOS subur lagi minim hama penyakit. Setelah 3 bulan akan banyak berbiak cacing, belut dan katak. Pertanda goal misi remediasi.

Jika Kawula Muda mau jadi Agen Perubahan lakukan serupa. Skala kecil 100 meter saja. Lalu kaji ulang. Ambil ilmu hikmahnya. Jika benar, silahkan diperluas dan ajak – ajak masyarakat luas. Agar Bio Extrim dan Hormax dapat murah beli curah ke pabrik saya saja.

Hubungi Reni HP 087781889797 atau David HP 081219929262.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *