Tulisan ini hanyalah narasi hipotesa dari beragam sumber hal kinerja intelijen dari negara barat. Dirangkai dari apa saja yang tersisa dari yang seharusnya dilenyapkan.
Namanya saja kinerja intelijen, harusnya tanpa jejak. Sunyi senyap yang penting target sasaran didapat. Tidak penting arti sebuah nama. Berprestasi tanpa pujian, gagal kena makian.
1. Fase tahun 1955 s/d 1995.
Bung Karno sukses hajatan Konferensi Asia Afrika di Bandung. Dihadiri semua tokoh dunia, mengagetkan negara barat. Amerika Serikat dan sekutunya merasa terancam. Dianggap Macan Asia pemberani.
Intelijen bekerja. Cipta kondisi agar Bung Karno tumbang. Apa pun caranya. Infiltrasi adu domba sesama anak bangsa Indonesia. Puncaknya G30S/PKI tahun 1965. Indonesia kehilangan pemimpin kelas dunia.
Amerika Serikat (AS) minta imbalan ekonomi yaitu kerja sama Freeport di Papua dan pemasaran gandum. Agar dapat kepastian pasar masa depan. Karena penduduk Indonesia banyak pertumbuhannya tinggi.
Misi Freeport dapat bahan baku murah untuk berbagai industrinya. Terutama persenjataan militer. Karena riset dan industri militer sukses. Cipta kondisi agar dunia selalu ada perang, terkendali oleh AS. Produknya laku keras.
Agar harga pokok produksi (HPP) rendah maka mutlak harga energi harus murah. Negara penghasil energi digenggam. Jika tidak loyal dikondisikan agar perang saudara. Kebetulan terbanyak kawasan timur tengah. Di sana banyak negara jadi korbannya.
2. Fase 1995 s/d sekarang.
Karena Pak Harto dianggap sukses dengan politik ” Ayem tentrem, ngawula weteng “. Datangnya damai apabila perutnya terisi penuh cukup. Pendek kata, upaya swasembada pangan. Mulailah AS dan Eropa sibuk mencari pasal masalah lagi.
Banyak komoditas Indonesia menyilaukan dunia. Banyak negara belajar jadi muridnya Indonesia. Termasuk Malaysia, Vietnam dan Ethiopia. Bahkan banyak yang dikirim ke negara – negara tersebut dapat jodoh di negara sana.
Intelijennya bekerja lagi. Kampanye hitam sapi merusak lingkungan dari limbahnya banyak metana (CH4) mereduksi kadar oksigen di udara hingga 19%. Kelapa diisukan sumber penyakit, banyak ditebangi.
Apalagi sawit yang nyata – nyata saingan kedelai dan bunga matahari tulang punggung ekonomi mereka. Oleh Pak Harto dikembangkan skala jutaan hektar pola plasma inti didanai APBN dan perbankan.
AS dan Eropa meradang. Takut jika kelak sawit akan merusak pasar minyak nabatinya dari kedelai, bunga matahari dan lainnya. Isu kampanye hitam 1.000 jurus dikeluarkan. Harus goal, sawit harus punah. Itu targetnya.
Kampanye hitam dengan lingkungan hidup dianggap merusak hutan. Padahal karena sawit bisa menghasilkan minyak nabati 6 kali lipatnya kedelai pada luasan sama. Kedelai dan bunga matahari mereka lebih luas lagi menggundul hutan.
Begitu juga kampanye hitam penyebab penyakit. Buktinya di RRC, Jepang dan India dijadikan bahan baku kosmetik dan farmasi, lalu dipasarkan ke seluruh dunia. Hal minyak sawit jadi energi, sama saja. Karena iri dengki. Takut pasar kedelai dan bunga matahari rusak.
Untuk mematahkannya sederhana saja. Kenapa yang mereka butuhkan jumlah besar rutin jangka panjang tanpa kena kampanye hitam ?
Konkritnya penambangan tembaga, nikel, bauksit, silika dan lainnya. Ini kalau dihentikan tidak kita ekspor ke mereka, justru mereka pada nangis bombai. Itulah jika intelijen bekerja. Hasilnya dahsyat. AS dan Eropa maju ekonominya, karena intelijennya juga.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630