Empiris.
Sudah 3 hari ini saya di Kota Malang Jatim. Menyenangkan karena ikut menyuarakan kepentingan praktisi. Dalam Rapat Kerja Tahunan Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP) Kementan. Dulu bernama, Balitbangtan. Diikuti oleh para pejabat se-Indonesia, ratusan peserta dibagi kelompok dan semuanya lulusan pascasarjana S3. Bermanfaat.
Intinya melakukan kaji ulang apa saja terkait prosedur operasional. Baik antar kepentingan pemerintahan maupun ke swasta. Penyusunan standarisasi agar terjadi harmonisasi karena makin sederhana dan cepat. Sehingga masyarakat pelaku usaha tidak mengalami hambatan. Begitu juga hilirisasi hasil penelitian.
Saat FGD, Harmonisasi Prosedur, saya berkisah nyata apa yang pernah saya alami betapa sangat pusingnya jadi praktisi bisnis di Indonesia jika mau maju kompetitif tidak takut barang impor, karena standar prosedur operasional (SOP) nya birokrasi ” terlalu ruwet “. Itulah sebabnya kita sering tertinggal oleh negara lain, dulu belajar ke kita. Karena kita kurang inovatif. Di antaranya ;
- Tahun 2005, saya kerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) riset dan hilirisasi. Cangkang sawit jadi karbon aktif dan asap cair. Begitu diekspor 2 kontainer tidak bisa. Karena dulu belum ada SOP nya, Codex nya. Kerugian saya Rp 465 juta. Tentu lebih banyak lagi ruginya, hilang kesempatan.
- Sekitar 5 tahun silam. Saya kecewa berat. Acara di Balitjestro Balitbangtan. Sepakat mau hilirisasi jeruk manis inovasinya yang diklaim tahan CVPD. Komitmennya saya menyediakan lahan 34 ha, sudah saya beli dekat Bandara Pangkalan Bun. Sudah saya buat jalan dan land clearing siap tanam. Ditunggu 6 bulan benih jeruk tidak datang, lahan jadi hutan lagi. Saya rugi banyak.
- Sekitar 3 tahun lalu, sepakat hilirisasi pembangunan mesin pellet pakan ternak berbasiskan limbah pabrik kelapa sawit bungkil dan solid plus tapioka. Ambyar tidak jadi pellet. Gagal total tidak jadi mesin pellet, jadi besi tua rongsokan hingga numpuk di gudang saya saat ini. Ruginya ratusan juta.
- Beberapa bulan lalu, saya sudah sepakat dengan Prof Ali Agus dari UGM Yogyakarta bahwa Sapi Gama dan rumput hijauan pakan sapi Gama Umami, keduanya inovasi dari UGM. Mau dikembangkan di lokasi saya. Agar segera membumi di masyarakat luas. Permohonan ditolak oleh Disnak setempat. Kandang miliaran tiada arti.
- Beberapa bulan lalu juga, pembangunan kandang unggas Ayam KUB dan Itik PMp. Inovasi Balitnak. Kandang sudah jadi habis miliaran 23 x 210 meter. MoU dengan BSIP sebagai mitra hilirisasi inovasi, sudah juga. Tapi birokrasi di daerah penerima teramat ruwet. Gagal. Lalu saya jadikan kandang Maggot BSF pakan Ikan Patin saja.
Sekaligus penutupnya saya kisahkan bahwa saat ini akhir bulan gajian karyawan di saya Rp 630 juta lebih/bulan, dulu mereka menganggur saat ini produktif. Belum lagi pajak untuk APBN kita, yang sebagian akan digunakan untuk gajian ASN dan lainnya. Artinya peran pelaku usaha sangat berat. Maka jangan diperberat lagi oleh prosedur birokrasi kita yang teramat ruwet selama ini.
Harus dilakukan kaji ulang bersama dan dibuat baru prosedurnya makin menyenangkan pelaku usaha atau masyarakat. Agar makin bergairah investasi produktifnya. Agar pengangguran tiada, ganti produktif semua meningkatkan daya beli pendapatan per kapita kita. Ini sangat penting, bagian dari iklim usaha. Ibaratnya media biaknya mikroba.
Sebaliknya, jika proses di birokrasi kita lancar. Maka pelaku usaha sangat senang, begitu juga para peneliti karena kiprahnya dihargai. Tiada kan mungkin sebuah negara, perusahaan atau perorangan bisa maju kompetitif jika tanpa bermental inovatif. Itu pun juga tiada terwujud jika tanpa dukungan iklim usaha, di antaranya SOP nya yang sederhana cepat.
Contoh empiris saya sendiri ;
- Sawit sejak memakai benih inovasi PPKS Medan bisa 32 ton TBS/ha/tahun, dulu dengan benih asalan hanya 14 ton TBS/ha/tahun. Sehingga hemat lahan 50% lebih dan laba pun tambah, apalagi sejak saya integrasi dengan breeding sapi, makin menyenangkan dan masyarakat pun ikut latah ATP/ATM inovatif juga, membangun bangsanya.
- Berkat Rumput Gama Umami dari UGM, bisa 700 ton/ha/tahun dengan protein 16%, dulu rumput gajah biasa hanya 120 ton/ha/tahun kadar protein hanya 4% saja. Gama Umami menghemat lahan mendongkrak laba, 1 ha bisa buat 50 ekor sapi indukan Brahman Simental Limosin.
- Dengan pupuk Bio Extrim dan Hormax, hasil riset inovasi saya sendiri. Cukup disemprot ke feses urine sapi, menghemat pupuk NPK kimia 75% hasilnya juga makin banyak, HPP rendah laba tambah. Tentu cepat kembali modal investasi (ROI) nya. Kesejahteraan kami sekeluarga terdongkrak.
- Sekitar 2 tahun lalu Prof Agus Pakpahan mencerahkan hal Maggot BSF di Group Dewan Pakar. Sebulan lalu diklat singkat beserta staf di Pak Alex Pusat Biokonversi limbah jadi Maggot BSF pakan ikan dan unggas. Saya kembangkan, bungkil sawit jadi Maggot BSF pakan ikan patin. Hemat banyak, karena HPP Maggot Rp 3.500/kg, pakan pabrikan Rp 14.000/kg sama di atas 30% proteinnya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630