Mon. Mar 2nd, 2026

Apa yang diramalkan oleh banyak tokoh dunia hal pangan. Saat ini telah terjadi. Pangan jadi rebutan dan penghasil pangan tidak mau ekspor sebelum kebutuhan domestik terpenuhi berlebih.
Situasi ini bisa jadi pemicu ketegangan antar bangsa dan kawasan.

Presiden Jokowi menyampaikan bahwa saat ini ada 19 negara yang tidak mau ekspor pangannya. Saat ini ada 90 negara dari total 195 negara di dunia ini. Yang sudah terdaftar resmi jadi pasien IMF. Inflasi di banyak negara juga masih tinggi. Jauh di atas Indonesia. Karena inflasi Indonesia berkisar 3% saja. Tergolong terbaik di dunia.

Hingga membagikan 10 kg beras/KK kepada masyarakat yang dapat manfaat (miskin). Selama 3 bulan sejak September sampai November 2023. Bagian dari intervensi pasar agar beras berlimpah di pasar, lalu harga beras turun ujungnya agar inflasi 2,5% saja. Menandakan harga beras masih belum terkendali.

Harga beras masih tinggi, jadi beban berat masyarakat, jadi sebab inflasi. Bahkan fakta lapangan harga gabah kering panen (GKP) sudah ada yang tembus di atas Rp 7.000/kg. Setara dengan harga beras Rp 15.000/kg, harga ini sangat berat bagi masyarakat Indonesia karena pendapatan per kapita masih rendah.

Harga beras di Jerman yang antara Rp 60.000/kg sampai Rp 80.000/kg yang diimpor dari Vietnam. Bukan terlalu jadi beban. Karena pendapatan per kapitanya tinggi. Jauh sekali dibandingkan Indonesia. Vietnam, Thailand dan produsen beras lainnya ketiban durian runtuh.

Bagaimana prospek pangan di masa mendatang ?

Sangat cerah. Sekali lagi sangat menjanjikan. Karena jumlah penduduk dunia terus bertambah. Tapi petani pangan hampir di semua negara mengalami penyusutan, apalagi di Indonesia. Jumlah petani yang kabur alih profesi atau jadi TKI hingga 0,54 juta KK/tahun (Data Sensus Pertanian terakhir).

Jika sawahnya diremediasi dulu baru tanam dengan benih inovatif. Optimis bisa 7,5 ton GKP/ha. Omzet Rp 7.000/kg x 7,5 ton GKP/musim = Rp 50 juta/ha, anggap Rp 45 juta/ha. Modal kerja jika sudah diremediasi tidak kan lebih dari Rp 15 juta/ha/musim. Laba Rp 30 juta/ha/sampai Rp 35 juta/ha/musim. Riil Cuan !

Masalahnya, indeks kepemilikan sawah kita hanya 0,3 ha/KK ada 14 juta KK. Sehingga sekalipun laba besar, karena omzet kecil dampak luas sawah sempit. Tetap juga sulit mewujudkan petani padi sejahtera. Agar jadi testimoni lalu anak muda pada kembali gemar tani padi.

Solusinya, pemerintah membuat progja stimulus bagi swasta yang mau cetak sawah dan dijual kredit ke petani tak ubahnya KPR rumah atau KUR Kebun Plasma Sawit. Jika swasta mencetak food estate pasti ada kajian mendalam agroklimat dan lainnya. Misal di hulu sungai air dibendung agar bisa tanam 2 kali/tahun.

Konkretnya swasta pengembang food estate dapat atensi semua infrastrukturnya. Lahannya milik swasta pengembang. Dengan begitu banyak yang mau ” berpartisipasi ” cetak food estate. Karena sesungguhnya sangat feasible cashflownya asal dapat lahan yang subur di pangkalnya ada sumber air tiada henti.

Empiris saya pribadi cetak sawah lahan tandus 21 ha di Jonggol Bogor tahun 2009. Jalan dan irigasi hal mutlak agar harga pokok produksi (HPP) jangka panjang rendah. Dihampar pupuk kandang, dolomit dan semprot larutan pupuk hayati (Bio Extrim dan Hormax 20 liter/ha).

Setelah ditraktor, 3 minggu lagi baru ditanam. Agar berbiak massal terlebih dulu mikroba penambat N pengganti Urea . Mikroba pelarut P dan K pengganti SP36 maupun KCl. Mikroba biopestisida pengganti pestisida melawan penyakit melindungi tanaman. Hasilnya sangat joss gandos jangka panjang.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *