Wed. Mar 4th, 2026

PROBLEMATIKA BERAS

ByWayan Supadno

Sep 24, 2023

Beras saat ini jadi sorotan dunia, termasuk Indonesia. Karena selama Januari sd Agustus 2023 impor beras 1,59 juta ton (BPS). Itupun harga beras masih belum terkendali. Di Pangkalan Bun Kalteng harga Rp 15.000 sd Rp 18.000/kg testimoni Emak – emak. Seminggu naik 3 kali.

Semalam, hanya sehari saja. Saya dapat telepon dari Guru Besar UGM Yogyakarta dan Anggota DPR RI Komisi IV, pertanyaannya sama persis. Apa masalah sesungguhnya hal beras, petani dan lainnya. Sudah didukung APBN jumlah berkali lipatnya dibandingkan jaman Pak SBY.

Tapi kok hasilnya, harga mahal dan barang langka lalu beras masih impor. Ini pertanda jumlah produksi beras dalam negeri masih kurang banyak sekali. Apa solusinya. Bagaimana contoh konkret solusinya. Topik kami diskusi ini sangat menarik. Sayangnya hanya via telepon, sehingga sangat terbatas penjelasan saya.

Prinsip – prinsipnya ;

  1. Data kita belum valid, sulit dipercaya akurasinya. Terlebih di mata saya selaku praktisi pemain lapangan. Kita ingat beberapa tahun silam, debat kusir data, karena data Kementan berlebihan maka yang dipakai data BPS. Dianggap paling dekat dengan apa adanya. Ingat, jika gagal data, maka gagal solusinya.
  2. Petani padi, belum sejahtera dibandingkan petani komoditas lainnya. Indikasinya, di mana ada sentra padi maka di sanalah serapan terbesar raskin (beras miskin). Sebab utamanya harga pokok produksi (HPP) tinggi dan indeks luas sawah petani hanya 0,3 ha/KK sebanyak 14 juta KK (Sensus Pertanian terakhir).
  3. Daya dukung lahan jelek dibanding negara lain sesama produsen beras, luas baku sawah hanya 7,46 juta hektar (BPS) padahal penduduknya 273,8 juta jiwa. Mutu lahan terdegradasi, indikasinya kadar c organik hanya dekat 1%, tahun 1970 sekitar 2,6%, ideal subur 4%. Padahal inilah nyawanya tanah media biak mikroba flora fauna sahabat petani. Sudahlah sempit, mutunya turun pula.
  4. Inovasi belum membumi, ini masalah utama. Data BPS rerata produktivitas kita hanya 5,4 ton GKP/ha. Tapi Rektor IPB University Prof Arief Satria mengklaim punya benih bisa 12 ton GKP/ha. Artinya antara di lapangan dan di penelitian bedanya bagai langit dan bumi saja. Seolah, penelitinya happy dengan dirinya sendiri saja.
  5. Kebijakannya bukan solutif penyebab, masih bersifat mengatasi simptomatis gejala keluhan saja. Ibarat orang infeksi bakteri patogen lalu demam tinggi, bukan diberi antibiotik generasi terbaru cefixim / cefadroxil. Tapi hanya diobati penurun panas antipiretik paracetamol atau ibuprofen saja. Hanya bansos dan subsidi sarana produksi padi saja.

Lalu, apa solusi causatic/penyebabnya ?

  1. Akurasikan data, hindari laporan data ABS (Asal Bapak Senang) agar dapat pujian seolah berprestasi. Buang jauh – jauh tabiat membuat data asalan demi aman misi terkandung terkait bansos subsidi karena memakai dana APBN, misalnya. Data mutlak valid, agar diagnosa tegak, resep solusi tepat mujarab dan prognosanya jelas.
  2. Berdayakan para petani/praktisi/pengusaha pencetak sawah nuansa inovasi remediasi. Agar cetak sawah bermutu dan terukur, infrastruktur didukung dan setelah jadi panen 2X dijual kredit ke petani pola KUR BRI. Persis Plasma Sawit. Misal 3 ha/KK. Maka petani padi makmur sejahtera karena omzetnya bisa Rp 400 juta/KK/tahun.
  3. Lombakan inovasi padi. Misal yang bisa goal riil bisa 10 ton GKP/ha dapat hadiah Rp 100 juta plus penghargaan langsung dari Kepala Negara. Dengan begitu tiada yang berani klaim benihnya paling hebat atau top markotop jika belum terbukti di sawah petani. Peneliti dan masyarakat petani akan lomba berbuat baik di lapangan nuansa inovasi.

” Selamat Hari Tani, 24 September 2023, Tanpa Petani Maka Tanpa Pangan dan Tanpa Kehidupan. Petani Rohnya Pangan Indonesia, Maka Pedulilah “.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *