Wed. Jan 14th, 2026

Wayan Supadno

Anak muda Indonesia jika mau cepat sukses melesat bisnisnya, lalu makmur sejahtera. Hidupnya sangat bermanfaat bagi umat banyak. Simak kisah inspiratif, penuh ilmu hikmah ini.

Seorang sahabat ke rumah, berkisah dirinya walaupun hanya lulusan STM karena keadaan orang tuanya. Tidak menyerah kalah. Justru jadi pemantik bangkit untuk tampil inovatif. Merekrut ribuan petani porang jadi plasmanya dibeli harga Rp 7.000/kg porang mentah.

Lalu membangun industri di kampungnya. Merekrut banyak alumni pascasarjana teknologi pangan, master ekonomi pemasaran global dan sastra bahasa inggris basis bisnis. Dia fokus intuisi dan leadershipnya saja. Juga membangun ” personal brand ” agar makin terpercaya.

Porang diubah jadi beras, diekspor harga Rp 180.000/kg. Labanya tidak usah tanya lagi, karena bank sudah membiayai jumlah sangat besar pertanda sudah feasible. Pendek kata barang murah karena berlimpah diproses dengan inovasi jadi sangat mahal karena rumit langka.

Makanya memberdayakan ratusan orang dan puluhan master teknologi pangan dan industri dari berbagai kampus ternama di Indonesia ini. Cetak devisa jumlah besar dan rutin, ikut mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Pajak besar rutin untuk APBN dan APBD.

Efek domino bagi masyarakat tercipta lapangan kerja mandiri ribuan keluarga petani porang. Sekitar 400 an orang dulunya menganggur jadi produktif. Daya beli meningkat tajam. Konsumsi rumah tangga naik membentuk ekonomi tumbuh dinamis. Hidupnya bermanfaat, urip iku urup.

Praktik Bisnis Kompleksitas Ekonomi adalah penerapan konsep ” economic complexity ” dalam strategi bisnis dan kebijakan industri. Fokus utamanya meningkatkan kemampuan produksi barang atau jasa yang semakin kompleks rumit dan bernilai tinggi.

Memanfaatkan iptek dan inovasi untuk berbisnis. Menghindari ketergantungan pada produk sederhana, mentah dan murah yang labanya sangat rendah karena minim iptek inovasi. Mewujudkan kemakmuran dengan cepat karena nilai tambahnya besar sekali.

Konsep kompleksitas ekonomi dikembangkan oleh Ricardo Hausmann (Harvard University) dan César A. Hidalgo (MIT)

Mereka memperkenalkan pendekatan ini melalui buku dan penelitian seperti “ The Atlas of Economic Complexity ” dan Economic Complexity Index (ECI) yang kini digunakan secara global untuk menganalisis daya saing ekonomi negara-negara.

Secara global, Indonesia berada di peringkat sekitar 70–90 dari total sekitar 130–150 negara yang diukur.

Di Asean, Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand, sehingga kira-kira menempati posisi ke-4 atau ke-5 di kawasan Asia Tenggara.

Negara seperti Singapura dan Korea Selatan menempati posisi atas karena mampu memproduksi barang-barang teknologi tinggi seperti semikonduktor dan peralatan medis canggih.

Manfaatnya ;

1). Meningkatkan daya saing bisnis dan negara. Barang dan jasa kompleks punya nilai jual lebih tinggi dan lebih sedikit pesaing.

2). Diversifikasi ekonomi. Bisnis tidak lagi bergantung hanya pada sektor bahan mentah atau sumber daya alam.

3). Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjut. Negara dengan ekonomi kompleks lebih stabil dan cepat tumbuh dalam jangka panjang.

4). Meningkatkan lapangan kerja berkualitas. Produk kompleks membutuhkan keterampilan tinggi, sehingga mendorong pendidikan dan inovasi.

5). Menarik investasi asing dan transfer teknologi. Negara yang mampu menghasilkan barang kompleks cenderung lebih dipercaya investor.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *