Wed. Jan 14th, 2026

Agar mudah dapat ilmu hikmahnya, berikut kisah nyata bahan kajian untuk pembelajaran betapa sangat besarnya “potensi permintaan domestik” kita. Sesuai kata Menkeu Purbaya, ada 90% lebih karena penduduk kita 287 juta jiwa.

1). Indikator di Perbankan.

Beberapa hari lalu, saya sempat diskusi dengan pejabat utama 2 bank, plat merah dan swasta. Berkisah katanya kredit ratusan miliar yang pasar ekspor lagi terganggu akibat gejolak geopolitik dan yang domestik lancar saja.

Pasar ekspor tidak baik, akibat perang dagang dan militer di beberapa negara. Ditambah Amerika Serikat (AS) kesannya mau invansi ke Venezuela pemilik deposit migas terbesar di bumi ini. Ribuan tentara dikirim oleh AS.

Bisa jadi sumbu ledak Perang Dunia ke 3. Dampaknya banyak industri menahan diri tidak produksi, PHK massal terjadi di banyak negara. Otomatis daya beli turun. Lalu serapan produk dari Indonesia turun drastis. Kredit macet (NPL) naik tajam.

2). Pebisnis Ekonomi Riil.

Kemaren seharian saya studi lapangan ke kandang sapi milik sahabat saya. Besar sekali kandangnya kapasitas 30.000 ekor, luas lahan 59 hektar. Tiap hari minimal jualan 100 ekor sapi atau Rp 3,5 miliaran/hari setara di atas Rp 100 milliar/bulan. Sapi dan kerbau dominan impor.

Saya sangat bersyukur punya sahabat dekat dengannya. Disiplin sholatnya. Sejauh ini disiplin dan konsisten dengan komitmennya. Betapa sulitnya saat merintis. Betapa hati-hati menjaga reputasi dirinya. Hingga bisa sebesar itu usahanya.

Tiap hari banyak masyarakat jualan pakan sapi wujud tebon dan jagungnya umur 80 hari. Puluhan ton butuhnya/hari. Gaplek, dedak, bungkil sawit dan kelapa, tetes tebu petani dan lainnya. Ribuan petani kecipratan rejekinya. Ratusan keluarga karyawannya.

3). Ekonometrika Daging Sapi.

Indeks asupan daging sapi kita sangat rendah hanya 2,57 kg/kapita/tahun (BPS). Wajar stunting kita masih sangat tinggi 20,6% dan tinggi badan rerata hanya 158,6 cm. Padahal Malaysia indeks asupan daging sapi 7,6 kg/kapita/tahun, hampir 3 kalinya Indonesia.

Jumlah penduduk saat ini 287 juta, bentar lagi 300 juta jiwa. Jika mulai sadar pentingnya protein hewani bisa naik 5 kg/kapita/tahun. Berarti akan butuh daging sapi 300 juta x 5 kg = 1,5 juta ton/tahun. Saat ini hanya 780.000 ton daging, itupun 60% impor sapi hidup dan daging beku.

Ekonometrika, ilmu yang memberdayakan data empirik selama ini dijadikan statistik lalu dianalisa untuk kepentingan ekonomi. Agar tahu gejala, prediksi dan antisipasinya. Sehingga tidak kalah dengan keledai, berulang kali jatuh pada masalah yang sama.

Artinya besar permintaan domestik agar tidak terus menguras devisa melemahkan rupiah sekaligus dolar konsisten naik/tahunnya. Kita harus swasembada sapi. Harus impor betina produktif 6 juta ekor. Agar jadi lapangan kerja masyarakat desa.

Stop total impor daging beku apalagi yang selundupan. Ini konkret perusak peternak kita. Penyebab banyak kandang, rumah potong hewan (RPH) tutup dan mangkrak. Jadi sebab utama peternak lumpuh hilang pekerjaannya. Petugas dan pejabat, tahu tapi tidak mau tahu, itu kesannya.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586570630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *