Wed. Jan 14th, 2026

Bisa memahami peta ekonomi global sangat penting. Karena kita bagian dari penduduk dunia. Indonesia pemilik pasar besar global karena penduduknya 280 jutaan jiwa. Agar mudah mengambil ilmu hikmah. Berikut contohnya.

1). Harga beras dunia ambrol.

Ini akibat Indonesia yang swasembada beras. Yang dulunya impor tiga jutaan ton/tahun, sekarang tidak. Permintaan beras turun, pasokan tinggi maka hukum ekonominya membentuk harga murah.

Jika Indonesia bisa fokus dan konsisten swasembada beras terus menerus maka tidak mustahil harga beras akan tetap rendah. Pasar beras global jutaan ton/tahun biasa diserap Indonesia jadi tiada lagi.

2). Harga sawit stabil tinggi.

Ini akibat dari kebijakan Indonesia mengubah CPO jadi B40 bahkan mau B50 yang akan menyerap CPO jatah ekspor hingga 27 juta ton/tahun. Terjadilah rebutan sawit. Daya pasok stagnan maka harga akan terus naik tinggi.

Sebelum ada biodiesel harga sawit di petani cuma Rp 700/kg, tapi saat ini bisa Rp 3.400/kg setara 4 kali lipatnya. Apalagi tahun 2026 program bioavtur sawit BBM pesawat terbang dari minyak kernel inti sawit (PKO) akan dijalankan.

3). Harga kelapa meroket tinggi.

Ini akibat kreatif inovatif masyarakat RRT mencari alternatif pengganti susu dengan santan kelapa. Santan dijadikan satu dengan kopi atau sekaligus pengganti susu hewani. Karuan permintaan besar karena penduduk RRT 1,417 miliar jiwa.

Efek dominonya harga kelapa naik tajam hingga dua kali lipatnya. Indonesia ketiban rejeki nomplok. Sekarang ditarget menanam 5 juta pohon kelapa. Akan makin dahsyat jika dihilirisasi baru diekspor barang jadi.

4). Harga sapi naik tajam.

Akibat Donald Trump menaikkan pajak impor dari Brasil dari 26,4% jadi 76,4% otomatis harga sapi asal Brasil di Amerika Serikat (AS) jadi sangat mahal. Implikasinya impor sapi dari Australia jumlah besar-besaran yang di luar nalar.

Konsekuensi logis, sapi Australia jadi rebutan AS dan Indonesia. Saat bersamaan mau idul Fitri. Harga sapi tinggi. Akibat Indonesia terlena tergantung impor. Selama ini cuma bernarasi teoritis, hingga depopulasi sapi 2,45 juta ekor.

Manfaat memahami peta ekonomi global meliputi ;

1). Lebih mudah memprediksi harga kalau naik atau turun.

2). Menghindari kerugian bisnis skala besar.

3). Membaca arah kebijakan negara besar pemilik modal dan pasar terbesar.

4). Menemukan peluang baru di balik perubahan situasi global.

5). Mengetahui risiko geopolitik yang berimplikasi pada ekonomi.

6). Membantu analisa dalam keputusan saat mau investasi.

7). Meningkatkan daya saing produk lokal dalam pasar global.

8). Membantu pemerintah membuat kebijakan menjaga stabilitas harga, melindungi petani/peternak dan lainnya.

Kesimpulan apapun alasannya petani, peternak dan pelaku usaha di Indonesia. Idealnya harus “melek data fakta informasi global”. Karena sangat strategis dan pentingnya. Artinya harus senantiasa adaptif.

Sehebat apapun pelaku ekonomi mikro akan hancur jika ekonomi global mempengaruhinya, begitu juga sebaliknya ekonomi mikro bisa tumbuh dinamis akibat keberpihakan pembuat kebijakan makro global.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *