Wed. Jan 14th, 2026

PERSPEKTIF SAPI

ByWayan Supadno

Sep 19, 2025

Sangat tepat sekali kebijakan pemerintah saat ini. Menghambat impor daging beku dan membuka lebar impor sapi hidup, utamanya sapi betina produktif agar berbiak massal sehingga makin mengurangi ketergantungan impor.

Data terkini populasi sapi Indonesia hanya 12 juta ekor, di Australia 35 juta ekor. Penduduk kita 287 juta jiwa, di Australia 26 juta jiwa. Populasi sapi kita hanya 30%nya Australia, tapi penduduk kita 10x Australia.

Pertumbuhan permintaan daging sapi Indonesia 6,4%, tapi pertumbuhan kapasitas produksi hanya 1,3%. Wajar impornya makin besar saja. Padahal asupan daging sapi hanya 2,57 kg/kapita, Malaysia 7,6 kg/kapita.

Sangat wajar itu semua berdampak pada harga daging kita termahal dibandingkan Malaysia dan negara di Asean, apalagi dibandingkan Australia. Karena hukum pasar, harga mahal karena kurang pasokan tapi tinggi permintaannya.

Dampak lain, malnutrisi utamanya kurang protein hewani. Prevalensi stunting kerdil retardasi kecerdasan. Termonitor pada prevensi stunting 20,6%, tinggi badan rerata 158,6 cm dan IQ 78,5.

Dampak lain lagi, jumlah impor daging beku dan sapi hidup makin besar setara 780.000 ton/tahun. Makin besar impor karena terjadi depopulasi 2,45 juta ekor/tahun. Akibat PMK, LSD dan pemotongan massal betina produktif.

Penduduk kita tidak lama lagi 300 juta jiwa. Seiring naiknya pendapatan per kapita akan bisa 5 kg daging sapi/kapita, bukan lagi 2,57 kg/kapita. Akan berpotensi kebutuhan daging sapi berubah dari 780.000 jadi 1,5 juta ton/tahun.

Uraian di atas, peluang emas masyarakat, sehingga bisa untuk mendongkrak daya beli. Bisa untuk cipta lapangan kerja, membendung impor dan hemat devisa agar rupiah tidak terus melemah dari tahun ke tahun.

Yang patut kita syukuri bersama, Indonesia pemilik sawit terluas di dunia 16,38 juta hektar penghasil bungkil sawit 8 juta ton/tahun. Begitu juga kelapa terluas di dunia 3,1 juta hektar, penghasil bungkil. Bahan utama pakan sapi.

Solusinya, pemerintah hendaknya membuat kebijakan stimulus agar banyak pelaku importir sapi betina produktif makin masif. Lalu dijual ke masyarakat. Agar berbiak massal. Jika tanpa stimulus pasti enggan impor betina produktif.

Empiris, utamanya masyarakat transmigrasi plasma sawit paling suka jika ada penjual sapi betina produktif. Bukan rebutan. Karena bisa integrasi, laba tambah. Feses urine jadi pupuk, limbah sawit jadi pakan. Ekonomi sirkular nol limbah.

Buktinya selama 5 tahun ini perusahaan saya, PT Bina Jaya Abadi/BJA Farm di Pangkalan Bun Kalteng sudah jual 1.300 ekor lebih betina bunting dan produktif, sudah beranak pinak di masyarakat. Otomatis kesejahteraan masyarakat meningkat.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *