Thu. Jan 15th, 2026

Penetrasi pasar, ibaratnya seorang pilot pesawat terbang, yang beratnya puluhan ton. Mengendalikan dengan kecerdasan tinggi. Butuh sikap tegas cerdas produktif, waktu singkat. Agar mengudara. Take off.

Pada fase itu sangat sulit dan berisiko tinggi. ” Jika agal “, sebabnya memang pesawatnya tidak layak diterbangkan, cuaca tidak mendukung, landasan pacunya kurang sesuai atau pilotnya belum terampil.

Begitu juga hasil penelitian (invensi) yang gagal jadi inovasi hingga 85%. Padahal diproduksi oleh Lembaga Riset dan Perguruan Tinggi sebagai pusat pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat (Tri Dharma).

Prof. Dr. Ahmad M. Ramli dari Universitas Padjadjaran, di Kompas.com tanggal 11 November 2022. Mengatakan kalau hanya itu namanya Inventor. Belum Inovator. Ibaratnya pohon hanya berdaun, berbunga tapi tanpa buah.

Tiada manfaat optimalnya. Pemborosan ekstrim tersistematis. Banyaknya hingga ratusan triliun dana APBN dari pajak rakyat yang dicari dengan cucuran keringatnya. Beda jauh dengan di Taiwan, Thailand, Korea Selatan dan Vietnam.

Sebabnya gagal penetrasi pasar invensi, tidak terkomersialisasi agar jadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, adalah ;

1. Kemungkinan tanpa dasar bahwa ide gagasan melakukan penelitian harus dari ” Suara Hati Nurani “, agar sifat humanisnya makin nyata adanya. Nilai – nilai kemanfaatan hidupnya bagi orang lain dan ciptaan Tuhan lainnya, makin nyata bisa dirasakan.

2. Kemungkinan sebelum melakukan penelitian tanpa melakukan kajian tentang pasar (intelijen pasar) dari invensi nantinya, agar jadi inovasi. Akibat diserap pasar. Akibat mudahnya penetrasi dan pengembangan pasar. Terkomersilkan. Marketable.

3. Kemungkinan para peneliti belum sadar pentingnya ilmu pemasaran, terampil praktik memasarkan dan invensinya jadi produk pemimpin pasar. Diproduksi tanpa dipasarkan adalah pemborosan. Termasuk invensi produk penelitian, karena memakai dana besar.

4. Jarang disadari bahwa gagal memasarkan hasil produksi, termasuk invensi adalah proses merusak cashflow, jadi bangkrut, tidak berkelanjutan. Imbasnya luas termasuk indeks kompleksitas ekonomi pada sebuah bangsa. Karena itu manifestasi dari indeks inovasi global.

Solusinya, adanya kewajiban bagi peneliti punya kajian data pasar dari hasil penelitian yang akan dilakukan. Mendidik dan melatih diri hal ilmu pemasaran. serta melakukan pemasaran. Agar hasil riset jadi inovasi membumi (terkomersilkan) dinikmati donaturnya, yaitu rakyat pembayar pajak.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *