Wed. Mar 4th, 2026

Sesungguhnya, jika mengatakan sesuatu adalah limbah atau sampah. Pertanda belum mampu memberdayakan jadi komoditas yang menambah nilai laba dan nilai manfaatnya.

Doktrin itu yang selalu saya genggam erat mulai dulu. Cipta kondisi agar yang tidak bernilai di mata masyarakat, dikelola dengan baik. Berusaha agar bernilai. Terbukti bisa juga.

Di antaranya :

Tahun 1995 s/d 2000 saat dinas militer di Rindam l/BB.

1. Cangkang sawit menggantikan batu bara.

Saya melihat tiap hari puluhan tronton membawa batu bara melintas di depan kantor dari pelabuhan Belawan Medan ke Porsea, Pabrik Pulp & Paper.

Saya uji kalori, merebus air satu kaleng. Dibandingkan antara batu bara dan cangkang sawit. Ternyata air merebusnya waktunya sama. Lalu saya tawarkan ke pabrik kertas tersebut.

Agar mengganti batu bara dengan cangkang sawit. Berlimpah menggunung di semua pabrik kelapa sawit (PKS). Lebih murah, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Menekan biaya produksi. Ternyata bisa.

Karena saat itu cangkang sawit hanya terbuang saja, jadi limbah sampah. Saya dapat royalti jadi supplier 3.000 ton/bulan selama 5 tahun. Lumayan dapat side passive income Rp 75 juta/bulan.

2. Limbah sekam padi dan peremajaan kayu teh pemanas boiler.

Saya melihat di PTPN IV Bah Butong, Bah Birong Ulu dan Marjandi. Meremajakan kebun teh kayunya mau dibakar saya larang. Saya minta lalu saya jual ke Pabrik Tapioka, Kilang Padi dan Pabrik kertas.

Begitu juga sekam padi. Karena menggunung di banyak kilang padi. Saya jual ke pabrik kertas penampung cangkang sawit. Sama untuk steam boiler. Hingga saat itu saya diledeki, Si PT Sekam Padi Indonesia, oleh banyak temanku.

3. Pinang berserakan hingga tumbuh di bawah pohon jadi devisa.

Saya melihat di PT Sipef, perusahaan PMA Belgia. Sepanjang batas kebun dan kiri kanan jalan kebun ditanam pinang. Banyak sekali. Tiada dipanen hingga tumbuh di bawah pohon.

Lalu saya uji ekspor nitip ke eksportir 5 kg. Pinang saya kupas dan belah dijemur kering. Ternyata goal bisa diekspor. Pinang tersebut saya kontrak selama 3 tahun. PT Sipef senang dapat dana taktis rutin. Saya juga dapat rejeki lumayan.

4. Karung bekas dijual ke Kilang Padi.

Saya melihat Kilang Padi memanen padi banyak sekali menghabiskan karung baru. Saya tawari karung bekas pupuk dan beras. Saya lihat di PTPN IV menumpuk segudang besar sekali. Goal. Harga 50% dari yang baru. Hemat.

Saya pun dapat rezeki berkah bertahun – tahun hingga ratusan juta tabungan dari itu saja. Dikelola tim, karena saya jadi Guru Pelatih Militer. PTPN IV tanpa banyak limbah, dapat dana taktis.

Tahun 2018 s/d sekarang di Pangkalan Bun Kalteng.

5. Limbah solid dan bungkil sawit jadi daging sapi.

Pakan sapi saya selain rumput inovasi dari UGM Varietas Gama Umami. Juga memakai limbah sawit dari PKS. Wujudnya solid dan bungkil sawit. Keduanya kadar protein kasarnya tinggi di atas 14%. Limbah saya jadikan daging sapi.

PKS tanpa harus banyak menumpuk limbah solid dan bungkil sawit. Harga pokok produksi (HPP) ternak sapi integrasi dengan sawit bisa rendah. Sekalipun tiap hari habis 3 dump truk. Sapiku beranak pinak, menekan jumlah impor sapi. Alam lestari.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *