Data Sensus Pertanian terakhir kepemilikan lahan sawah luasnya 0,3 ha/KK ada sebanyak 14 juta KK. Ini akibat dari bagi waris lahan pertanian dari kakek ke anak dan ke cucu. Dampak dari gagal membentuk Industriawan agro inovatif, pencipta lapangan kerja anak petani. Sekaligus dampak alih fungsi lahan pertanian 110.000 ha/tahun (Sensus Pertanian).
Data dan fakta lapangan sebaran serapan bantuan raskin terbanyak pada daerah sentra padi, di mana ada sentra padi maka di sanalah serapan bantuan raskin banyak terserap, artinya banyak kemiskinan. Data BPS 2021, kemiskinan 51% berada di pedesaan dan 61% nya berprofesi petani.
Menurut Global Food Security Index (GFSI), Indeks Ketahanan Pangan Indonesia peringkat ke – 63 dari 113 negara pada tahun 2022. Di tingkat Asean hanya kalah dengan Singapura, Malaysia dan Vietnam. Artinya ketahanan pangan Indonesia moderat baik dan kuat. Sekali lagi, kuat dan tidak rapuh.
Jumlah petani di Indonesia terbanyak dibandingkan negara lain. Sekitar 34 jutaan dari 273,8 juta penduduk (BPS). Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura dan lainnya yang indeks ketahanan pangannya lebih baik peringkatnya dari Indonesia, justru jumlah petaninya di bawah 4% dari jumlah penduduknya.
Portofolio di atas memberikan pesan bahwa ternyata jumlah petani banyak tidak linier dengan kesejahteraannya dan ketahanan pangan nasionalnya. Bahkan berbanding terbalik, negara tanpa punya banyak petani justru kemiskinan tidak banyak dan makin cepat majunya negara tersebut sekaligus ketahanan pangannya makin kuat.
Jika dikaji lebih dalam lagi, besar kemungkinan kemiskinan petani Indonesia karena luas lahannya yang hanya 0,3 ha/KK. Padahal di Amerika Serikat 300 ha/KK. Menariknya di Korea Selatan juga berlahan sempit. Apalagi di Singapura yang 95% pangannya impor justru ketahanan pangannya terkuat di Asean dan pendapatan per kapitanya 16 kali lipatnya Indonesia.
Menariknya lagi, Taiwan dan Belanda yang punya lahan pertanian sangat sempit jadi negara makmur berpendapatan per kapita tinggi. Karena jadi sentra hortikultura bunga dan sayur hingga apresiasi dari lahannya Rp 800 jutaan/ha/tahun dan Indonesia hanya Rp 700.000/ha/tahun karena banyak yang terlantar tidur lelap.
Lalu, kenapa sentra padi jadi sentra serapan bantuan raskin dan 61% penyumbang kemiskinan ?
Luas lahan rerata 0,3 ha/KK beranggotakan 4 orang. BPS, rerata hasil per musim 5,4 ton GKP/ha. Harga Rp 7.000/kg, saat ini. Berarti omzetnya 5,4 ton GKP/ha x 30% luas lahan x Rp 7.000/kg harga GKP saat ini = Rp 11,3 juta/musim 4 bulan. Jika setahun berarti Rp 33,9 juta/KK. Laba 30% berarti Rp 10 juta/KK/tahun. Setara hanya Rp 830.000/bulan.
Ini sangat jauh dari UMR Kabupaten di manapun juga di Indonesia ini. Karena UMR terendah Rp 1,8 juta/bulan di DIY dan tertinggi di DKI Rp 4,9 juta/bulan.
Artinya negara harus segera hadir memberi solusi agar indeks kepemilikan lahan sawah padi segera minimal 3 ha/KK agar bisa berpendapatan 10 kali lipatnya saat ini.
Konkretnya agar punya 3 ha sawah/KK petani padi. Agar bahagia sejahtera beromzet Rp 330 juta/tahun dengan laba Rp 100 jutaan/KK/tahun. Ini mutlak, apa pun caranya kalau mau berkelanjutan swasembada pangan sekaligus indeks ketahanan pangan naik peringkat. Rohnya kesetiaan profesi ada pada apresiasi dan kesejahteraan.
Konkret solusinya, cetak sawah food estate lalu kreditkan ala KPR rumah atau Plasma Sawit PIR-Bun. Percayakan kepada ahlinya karena terampil berulang kali pernah jatuh bangun cetak sawah lalu punya banyak ilmu hikmah lapangannya. Dengan begitu maka petani padi sebagai nyawanya pangan dan pangan nyawanya bangsa, akan aman jangka panjang.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630