Sesekali perlu sejenak diskusi dengan hati atau dengan sesama sehati yang peduli tentang kemanusiaan. Bahwa di dunia ini sudah berulang kali beberapa negara dilanda kelaparan yang teramat menyayat hati. Tragedi kemanusiaan, memilukan.
Mengutip dari Wikipedia ;
1. Tahun 1958 s/d 1961, Tiongkok pernah dilanda kelaparan teramat dahsyat korban kematian 51 juta jiwa manusia. Salah satu sebab utama hal pangan. Jumlah tidak cukup, data tidak valid dan mahalnya harga pangan saat daya beli rendah.
2. Tahun 1983 s/d 1985, Ethiopia juga pernah dilanda kelaparan yang juga mengerikan. Menewaskan 1,2 juta jiwa. Ini akibat pangan, perang saudara dan kebijakan politik tidak berpihak. Ilmu pengetahuan teknologi inovasi, belum membumi seperti saat ini.
3. Tahun 2023 diprediksi oleh PBB akan terjadi kelaparan yang mengancam 339 juta jiwa manusia, tersebar di 65 negara (Koran Kompas). Dampak dari beruntunnya masalah ekstrim dunia. Pandemi Covid, Perang Rusia Ukraina dan Cuaca Ekstrim.
Sekarang Tiongkok produsen beras terbesar juara 1 di dunia. Ethiopia masuk peringkat ke 12 sedunia ketahanan pangan berkelanjutan. Lumbung pangan dunia. Hingga 6 konglomerat Indonesia jadi investor di Ethiopia. Keduanya mencengangkan dunia.
Apa saja yang telah dan sedang dilakukan oleh Tiongkok dan Ethiopia ? Bisa berubah total diagonalis. Terjelek jadi hampir terbaik. Dari kelaparan mengorbankan jutaan umat manusia jadi penghasil pangan, produsennya linier sama majunya, mentas dari kemiskinan.
1. ” Membangun mental perubahan bersama yang terpimpin. ” Sehingga lahir kesadaran dari semua warganya untuk berubah dan berubah. Semua dicipta kondisikan agar berpartisipasi aktif untuk negerinya. Apapun profesinya, tanpa kecuali. Itu intinya, berubah terpimpin solid.
2. Transformasi pemuda sarjana dan pemuda desa. Jadi praktisi skill sebanyak mungkin. Agar jadi mesin pencetak pajak dan devisa, karena dirinya produktif mandiri. Hingga banyak lahir investor muda berlomba mendirikan industri agro, jadi vakum penyedot hasil bumi sedunia.
3. Infrastruktur dibangun besar – besaran sejak puluhan tahun silam. Jalan dan pelabuhan serta bandara agar ongkos kirim murah. Perluasan cetak hutan, kebun dan sawah di wilayah tandus bergurun pasir. Bendungan besar tak terhitung. Agar volume produksi pangan makin besar.
4. Membumikan inovasi. Baik dari luar negeri ditiru dan inovasi dalam negeri dihilirisasikan. Agar indeks produksi per hektar naik tajam. Agar harga pokok produksi (HPP) semua produk nasional rendah yang diharapkan jadi pemenang di persaingan global.
5. Tegas dalam memberikan penghargaan bagi yang berprestasi. Misal yang investasi dilindungi agar berkembang cipta lapangan kerja makin banyak, pajak dan devisa makin besar. Tapi hukuman juga tegas. Misal yang korupsi dihukum mati, karena ini akan mematikan masa depan negerinya.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630