Sun. Mar 1st, 2026

Wayan Supadno

Agar kawula muda langsung dapat ilmu hikmahnya dan mudah dijabarkan di lapangan, sebagai solusi konkret atas masalah yang ada di depan kelopak mata kita. Saya urai kisah nyata di bawah ini. Walaupun sangat tergantung diri kita, puas hanya bernarasi atau aksi investasi.

Kenaikan Harga Pangan.

Sebelum Bulan Suci Ramadhan, menu di Dapur MBG (SPPG) masih normatif. Bukan makanan kering. Seiring makin masifnya MBG, makin banyak permintaan bahan baku untuk Dapur MBG, tapi pasokan tetap. Harga jadi naik. Ini Hukum Pasar.

Konkretnya, pisang biasanya Rp 3.000/kg jadi Rp 7.000/kg, jeruk manis biasanya Rp 12.000/kg jadi Rp 15.000/kg, daging ayam biasanya Rp 32.000/kg jadi Rp 34.000/kg dan telur biasanya Rp 24.000/kg jadi Rp 32.000/kg. Begitu juga sayuran misal wortel, cabai dan lainnya.

Padahal semua di atas non impor. Bagaimana pangan impor ? Misal susu yang 78% dari total kebutuhan nasional adalah impor, jelas jadi rebutan, pasti juga makin mahal. Begitu juga daging sapi, langsung melambung tinggi karena butuhnya 19.000 ekor/hari khusus MBG saja.

Sama halnya dengan mobil pick up, karena kebutuhan MBG banyak yaitu 2 unit/SPPG padahal ada 32.000 SPPG. Total 64.000 unit mobil pick up. Langsung pabrik mobil pick up angkat tangan. Tidak sanggup melayani. Di luar kapasitas produksi domestik.

Itulah sebab PT Agrinas Pangan Nusantara (Danantara) impor 105.000 unit dari India. Untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Agar memacu percepatan distribusi perdagangan KDMP, agar ekonomi kerakyatan cepat bergairah tumbuh dinamis. Ekonomi jadi tumbuh dinamis.

Kesimpulan dari kisah di atas, bahwa terjadi cipta peluang emas pada banyak usaha. Baik di hulu maupun di hilir. Baik pertanian maupun industri. Baik yang utama maupun sarana prasana pendukungnya. Ini jika tidak kita tangkap, atau tiada yang investasi akan mengerek harga dan jadi inflasi.

Tapi jika kita mau berhenti hanya bernarasi, kontan berbuat produktif mau investasi. Yang akan terjadi penyerapan pengangguran besar-besaran, yang dulu menganggur jadi produktif lalu daya belinya naik, PDB/kapita naik juga.

Konkretnya, karena kurang susu maka ramai invest sapi perah. Karena kurang telur dan ayam, maka ramai invest peternakan ayam petelur dan pedaging. Karena kurang sapi, maka ramai invest peternakan sapi. Karena pisang mahal jadi rebutan antara MBG dan Eksportir.

Karena peluang banyak lalu para investornya ramai. Jadilah lapangan kerja banyak. Semua akan sibuk produktif. Bukan sibuk meletup-letup seperti mercon, di medsos dan media massa, karena manusia sumbu pendek. Atau karena misinya memang iklan promosi diri agar populer saja.

Salam Investasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *