Wed. Mar 4th, 2026

Sering kali saya dapat pertanyaan dari sahabat member medsos yang umumnya para pemilik modal, punya tabungan deposito. Karena kerja sebagai profesional, mau mengawali menjadi wirausaha. Peluang usaha apa yang paling bagus saat ini dan ke depan ?

Jawaban saya lugas saja sesuai data fakta yaitu usaha di bidang pangan. Data BPS 2022, impor kita di bidang pangan minimal Rp 300 triliun/tahun. Mulai dari hasil tumbuhan perkebunan, peternakan dan perikanan. Itu memang ancaman, tapi itu juga peluang emas usaha.

Jika di breakdown nilai impor Rp 300 triliun/tahun. Setara telah ” mereduksi ” kesempatan kerja masyarakat pedesaan 5 juta kepala keluarga. Konkretnya jika Rp 300 triliun tidak impor, tapi beli dari petani dan peternak kita, maka setara Rp 300 triliun : Rp 60 juta/KK = 5 juta kepala keluarga.

Artinya Indonesia butuh sekitar 5 juta orang wirausaha kelas menengah. Agar investasi lalu produknya membendung impor yang senilai Rp 300 triliun/tahun tersebut. Pendek kata kalau ada 5 juta lagi Wayan Supadno/Pak Tani, fokus usaha produksi pangan. Maka impor pangan bisa distop total. Ini yang paling utama dan pertama filosofinya. Harus banyak praktisi inovatif produktif, jika mau stop impor pangan.

Ambil peran dari asumsi 5 juta kepala keluarga yang hilang omzetnya karena impor itulah ” peluang emas usaha ” yang sesungguhnya. Itulah cara saya berpikir selama ini yang melatar belakangi kenapa saya usaha di bidang pangan utamanya perkebunan, peternakan dan ikan patin.

Berawal melihat data impor di BPS maka tahu persis potensi besarnya pasar. Pendek kata karena saya mau berpartisipasi membendung impor pangan. Merebut kembali hak kita, yang telah lama sebagian diambil oleh petani peternak di luar negeri. Mereka di luar negeri makin sejahtera, karena pasarnya ada kepastian dijual ke Indonesia.

Tugas saya cuma 1 saja, membentuk ” Tim Pemikir ” manajemen perusahaan. Agar dibuat kajian rencana penetrasi pasarnya, estimasi cashflow investasinya dan kecocokan agroklimat dan komoditasnya. Begitu juga resikonya baik hama penyakit, sosial, alam dan gejolak ekonomi makro globalnya, harus dikaji.

Jika kita sudah membuat ” Tim Sukses ” maka harus konsisten dalam menjabarkan niat yang terus dipikirkan/belajar (manacika), dibicarakan/dibahas/didiskusikan (wacika) dan dipraktikkan (kayika) terus menerus tiada henti hingga refleks lalu lahirlah keterampilan/skill pada bidangnya.

Contoh :

Jika mau jadi peternak sapi sukses. Mutlak harus bersimbiotik dengan ahli sapi baik sarjana peternakan, dokter hewan dan peternak senior yang sukses duluan. Leadershipnya kita, lainnya yang bersifat kepintaran teknis dipercayakan kepada para ahlinya. Agar bersinergis, agar jadi superteam.

Jika mau jadi pekebun sukses. Tiada mungkin dikerjakan sendiri akan cepat sukses, karena menganggap dirinya serba pintar dan skill. Harus, mutlak bersimbiotik kepada ahli perkebunan, keuangan dan lainnya. Intinya tiada superman, adanya superteam. Terus bergerak berubah, agar seimbang menuju perubahan sesungguhnya jadi sukses.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *