Fri. Mar 6th, 2026

Wayan Supadno

Ungkapan ini berasal dari falsafah hidup Jawa lama yang sudah dikenal sejak masa kerajaan Jawa. Nasihat ini sangat populer karena muncul dalam ajaran kepemimpinan Jawa seperti yang dikaitkan dengan karya Serat Wedhatama karya Mangkunegara IV pada tahun 1800-an.

Walaupun kalimatnya kemungkinan sudah hidup dalam tradisi lisan masyarakat Jawa jauh sebelum itu. Namun tetap relevan kita pakai, utamanya buat anak muda yang berjiwa membara pada era medsos seperti saat ini. Contohnya 2 video ini, bisa diambil ilmu hikmahnya.

1). Ojo Gumunan (Tidak Mudah Terpukau)

Di era medsos banyak berita viral, sensasi, atau informasi yang belum tentu benar. Bahkan hoaks, tipuan palsu.

Nasihat ini mengajarkan tidak langsung kagum atau percaya pada sesuatu yang viral.

Contoh sikap ojo gumunan, cek fakta dulu, tidak ikut menyebarkan hoaks dan tidak terpesona oleh popularitas atau pencitraan.

2). Ojo Kagetan (Tidak Reaktif).

Media sosial sering membuat orang cepat bereaksi terhadap isu politik, kebijakan pemerintah, atau berita viral.

Petuah ini mengingatkan jangan langsung marah atau panik, pahami dulu informasi secara lengkap dan berpikir jernih sebelum berkomentar.

3). Ojo Dumeh (Tidak Sombong atau Merasa Paling Pintar/Benar)

Maknanya sangat luas bagi masyarakat jangan merasa paling benar hanya karena punya banyak pengikut atau opini viral.

Begitu juga bagi pejabat atau pemimpin, jangan mentang-mentang punya jabatan lalu tidak mau mendengar kritik masyarakat.

Relevansi dengan perbedaan opini di medsos. Perbedaan pandangan antara masyarakat dan pemerintah sebenarnya wajar dalam demokrasi. Petuah ini memberi keseimbangan :

1). Masyarakat agar tidak mudah terpancing emosi dan tidak menyebarkan informasi tanpa memahami konteks, cek data fakta dan telaah dulu.

2). Pemerintah atau pejabat agar tidak bersikap arogan terhadap kritik publik, mawas diri saja.

Intinya bijak dalam informasi, tenang dalam reaksi, dan rendah hati dalam kekuasaan. Bijaksana selalu lahir dari ketenangan lalu memancarkan terangnya.

Kesimpulan petuah Jawa ini adalah falsafah etika sosial dan kepemimpinan yang tetap relevan hingga sekarang agar jangan mudah terpukau, jangan mudah panik, dan jangan sombong atau merasa paling benar.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *