Thu. Jan 15th, 2026

Esensi menghilirisasi inovasi adalah mencari nilai tambah kapital dan nilai tambah manfaatnya. Mengubah bahan murah meriah jadi mahal, bahan dianggap tidak bermanfaat jadi bermanfaat dan barang berlimpah jadi unik langka. Itu bisa dilakukan dengan komersialisasi hasil riset (invensi) jadi inovasi membumi.

Bukan sekedar hanya merakit produk jadi atau setengah jadi milik pihak lain. Lalu itu dianggap inovasi. Karena dengan narasi berbelit – belit agar terkesan sulit atau narasi berputar – putar agar terkesan pintar. Inovasi adalah hasil riset invensi yang laku terkomersialisasi. Itulah pendapat Pakar dari Kampus ITB 4 tahun silam.

Itulah sebabnya, kawula muda mesti paham. Kenapa negara – negara maju kebanyakan di kawasan subtropis bukan di kawasan tropis. Mereka pendapatan per kapita bisa berkali lipatnya Indonesia yang negara tropis. Pendapatan domestik bruto (PDB) juga besar. Padahal mereka tidak punya kebun dan lautan luas.

Tak ubahnya di dalam wilayah Indonesia sendiri. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pabrik -pabriknya tidak luas hanya 3.000 meter/perusahaan. Tanpa punya kebun ribuan hektar atau kolam ikan ratusan hektar. Tapi kompleksitas ekonominya sangat besar. Omzet dan laba mengalahkan kebun ribuan hektar.

Itu semua bisa diwujudkan jika manusianya bermutu. Iklim usaha kewajiban pemerintah berpihak. Iklim riset dan inovasi membumi juga berpihak. Kolaborasinya jadilah sebuah bisnis yang digerakkan oleh pebisnis yang investasinya nuansa inovasi.

Bisa mudah terwujud karena ” banyak kemudahan investasi ” dari pemerintah. Produknya langka canggih jadi rebutan pasar global fast moving karena minim pesaing. Berkat riset orientasi solutif pasar dari suara hati Peneliti, bukan asal riset untuk sekedar tahu atau karena tujuan faktor lainnya.

Contoh ;

1. Pabriknya hanya di atas 3.000 meter. Penghasil tepung ikan, minyak albumin bahan baku farmasi untuk pasca operasi dan gagal ginjal bocor. Sekaligus kripik kulit ikan dan fillet. Semua diekspor karena melayani yang bisa memberi harga tertinggi. Cetak pajak dan devisa jumlah besar rutin jangka panjang.

Nilai cashflownya mengalahkan dengan kolam ikan gabus dan betutu luas ratusan hektar. Implikasinya ratusan karyawan bisa dapat pekerjaan, ratusan kepala keluarga bisa jadi petani mitra plasma sebagai vendornya dan dana yang mereka dapat pindah lagi ke warung, toko sebelah, angsuran rumah maupun kendaraan.

2. Pabriknya hanya di atas lahan 5.000 meter (0,5 hektar) juga di dalam KEK tersebut. Produksinya minyak goreng merah, beta-karoten vitamin A, pasta gigi, sabun dan margarin. Hanya berbahan baku minyak mentah sawit (CPO) hasil produksi kebun ribuan hektar milik ribuan kepala keluarga petani sawit.

Cashflow industri di atas lahan 5.000 meter mengalahkan cashflow bisnis pekebun ribuan kepala keluarga di atas lahan ribuan hektar. Pendek kata, mempraktikkan ipteks di bidang sawit ruas hilir agar melahirkan banyak produk langka sehingga makin besar nilai tambah kapital dan nilai tambah manfaatnya.

Itulah contoh konkret yang selama ini dilakukan oleh negara – negara maju. Membuat produk unik langka dan mahal dari bahan baku berlimpah ruah di seluruh dunia dan murah. Wajar saja pendapatan per kapitanya bisa 16 kali lipatnya Indonesia saat ini Rp 5,9 juta/bulan. Dampaknya pangan mahal bukan masalah, beras di Singapura Rp 30.000/kg tiada keluh kesah rakyatnya.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *