Penting dipahami oleh Anak Muda Indonesia, beberapa kisah di bawah ini. Konkret penjabaran dari Petuah Jawa Pedesaan “Ngulir Pambudi/Memberdayakan Diri”. Sesungguhnya arti gramatikalnya sangat luas dan dalam. Walaupun petuah tersebut dari pedesaan Jawa, seperti saya.
1). Inovator Hebat.
Yang saya tahu beliau tanpa pernah terkesan membusungkan dada karena segala predikat dan karya bhaktinya. Selalu “andap asor” di manapun berada sekalipun pada acara bersejarah lahirnya inovasi asli Indonesia, padahal semua orang terkagum dan menghormatinya.
Di mata saya, beliau idealnya seorang Ilmuwan Inovator. Tiada bising sibuk di dunia maya. Tapi terus sibuk penelitian dan hilirisasinya. Sekalipun anggaran sangat terbatas, terus “ngulir pambudi” tiada henti. Tanpa perlu mengeluh dan menyalahkan pihak lain.
Salah satu karyanya, Katalis Merah Putih. Implikasinya jutaan ton CPO bisa diubah jadi solar. Jutaan KK Petani sawit terdongkrak kesejahteraannya karena harga sawit berubah, bukan cuma naik, dari Rp 700/kg jadi Rp 3.400/kg TBS saat ini dan hemat devisa puluhan triliun/tahun.
2). Entrepreneur Inovatif.
Beda lagi figur yang satu ini. Bukan pemilik warisan bisnis berlimpah dari keluarganya. Bahkan masa lalunya jadi pemulung. Hanya lulusan STM. Serba terbatas. Tapi “terus ngulir pambudi” menjabarkan falsafah Jawa “urip iku urup/hidup itu memberi manfaat”.
Pernah ke rumah saya dan saya juga pernah ke rumah maupun pabrik porang yang diubah jadi beras lalu diekspor ke banyak negara. Wajar saja jika omzetnya ratusan miliar dan karyawannya ratusan orang, petani plasma ribuan orang. Tapi tetap rendah hati.
Contoh saat saya puji, tanpa kaget, justru ucapannya membuat saya malu hati “Saya cuma muridnya Guru, Njenengan”. Padahal hanya karena sering kordinasi saja. Makjleb di dalam hatiku. Kadang, kalau orang lain begitu dipuji 5% langsung dadanya diangkat 50% oleh dirinya sendiri.
3). Pewaris Bisnis.
Seorang sahabat pelaku bisnis. Karakternya sama sahabat saya yang pangkatnya Letkol kebetulan ayahnya jenderal bintang dua. Tiada mau dikaitkan dengan orang tuanya. Maunya berprestasi karena “ngulir pambudi” memberdayakan dirinya sendiri. Tanpa label lain.
Ujarnya, memangnya orang tua saya ikut saat tugas militer di perbatasan Papua ? Memangnya orang tua saya ikut saya naik gunung dengan beban rangsel 75 kg di pundakku ? Begitu juga sahabat pewaris bisnis tersebut tanpa mau seperti sebagian orang pongahnya karena keringat orang tuanya.
Implikasinya, secara umum figur yang mau membentuk mengembangkan dan memberdayakan dirinya sendiri (ngulir pambudi) jauh lebih matang, dewasa dan bijaksana. Karena tahu rasanya pahit getir hidup, cipta kondisi untuk diri sendiri. Lebih sadar bahwa etika punya kekuatan teramat dahsyat.
Kesimpulan. Ngulir pambudi ajaran petuah Jawa menuntun agar kita mau membangun dan mengembangkan diri sejak dini tiada henti. Berlatih agar mampu menahan diri. Karena petuah tersebut menegaskan bahwa nilai aset termahal kita adalah diri kita, bukan harta pangkat jabatan, itu hanya akibat saja.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630