Pada 2 hari lalu saya yang ke sekian kalinya diminta jadi narasumber pada Pembekalan Kepemimpinan Kewirausahaan Multi Lembaga/Kementerian. Peserta 50 orang semua pejabat eselon 2. Semua antusias 2 jam molor 30 menit, banyak pertanyaan hal lapangan.
Saya juga semangatnya tidak mau kalah. Inilah bagi saya ” kesempatan emas ” untuk berbagi ilmu dan pengalaman lapangan selama ini mengelola usaha dari nol tahun 1995 sambil dinas militer. Hingga sekarang selalu dengan leadership jarak jauh. Tapi usaha harus tetap jalan, apa pun alasannya.
Karena dulu sambil usaha sekaligus sibuk jadi guru pelatih militer. Sekarang usaha di Kalimantan, tapi rumah di Cibubur. Kedua situasi ini memaksa harus menerapkan kepemimpinan jarak jauh. Sekali lagi, usaha harus tetap jalan dan tumbuh berkembang. Terlanjur melibatkan banyak orang.
Beragam kisah nyata saya tumpahkan apa adanya. Agar disarikan, diambil ilmu hikmah. Sungguh betapa beratnya jadi pelaku usaha. Harus mencari anggaran ratusan juta tiap akhir bulan untuk gajian, pajak juga banyak, peduli ke masyarakat juga mesti terjaga dan lainnya.
Sehingga sangat berharga dukungan iklim usaha yang baik dari pemerintah/para pejabat peserta diklat tersebut. Yang sulit sedapat mungkin dipermudah, yang lama dipercepat, yang berat diringankan dan seterusnya. Kemudahan berusaha sangat dibutuhkan oleh pengusaha.
Ada beberapa pertanyaan yang menarik, di antaranya ;
1. Bagaimana cara mengatur waktu, tenaga, pikiran dan lainnya. Sehingga dinas militer dan bisnis sama jalannya ?
Prinsip filosofi pebisnis bagi saya, membangun sebuah sistem organisasi yang kita sangat minimal terlibat. Bila perlu tanpa menyentuh sekalipun. Tapi tetap produktif. Dengan cara memberdayakan kelebihan – kelebihan orang lain. Agar ikhlas senang hati, syukur dan bangga mendukung usaha kita.
2. Bagaimana cara tahu peluang bisnis. Cara memasarkan karung bekas, pinang berserakan, sekam padi, cangkang dan lainnya ?
Itu semua bagian dari naluri bisnis. Intuisi. Insting. Feeling business. Tanpa dikenalkan tahu sendiri, baru dikaji daya nalar analisis oleh tim pemikir usaha (manajemen). Karena bakat, iya. Tapi bisa diasah. Dengan cara mengoptimalkan panca indra. Kepedulian. Bergaul dengan komunitas pebisnis.
3. Bagaimana contoh konkretnya jika jadi Kepala Karantina, Kepala Dinas atau pejabat lainnya. Agar bisa bisnis dapat rezeki halal dan anak bisa meneruskan bisnis tersebut ?
Kata kunci, penjabaran ilmu binter TNI. Baik – baik dengan rakyat agar rakyat juga baik dengan TNI. Pejabat sipil juga bisa melakukan itu, misal ada eksportir titip saham 1 kontainer dari beberapa kontainer yang diekspor. Ada peternak sapi, numpang nggaduh sapi dan lainnya. Kurang modal pakai KUR nya BRI. Akan tumbuh. Asal halal dan bermanfaat, akan nikmat.
Dengan cara melibatkan diri pada proses maka kita akan tahu rasanya betapa sangat berat jadi pengusaha. Sehingga perlu didukung. Akan dapat ilmu dari pengalaman lalu tidak numpang saham tapi mandiri. Didelegasikan ke pihak lain atau manajemen yang kita bentuk sistemnya.
Tapi jika tiada pernah dimulai maka tiada pernah tahu rasanya dan tiada punya ilmu hikmahnya. Tidak punya bekal menyempurnakan langkah berikutnya. Jika hanya direncanakan saja, apalagi sampai rapat 18 kali, webinar 4 kali, studi banding dan alasan lainnya. Maka akan terjadi Perayaan HUT Ke – 3 Rencana. Action on the first time.
Endingnya pada happy. Hampir semua pada minta selfie. Banyak yang japri mau memulai bisnis, cipta lapangan kerja, meminimalkan kemiskinan masyarakat dan peran lainnya. Semoga setetes ilmu pengalaman lapangan bisa membasahi ingatan baik sepanjang hayatnya. Bermanfaat. Semoga.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630