Wed. Jan 14th, 2026

Tulisan ini, hanyalah satu sudut pandang saja. Dari saya pribadi yang hanya petani, pebisnis, peneliti dan selama 23 tahun jadi prajurit sebagai guru pelatih militer. Hanya analisa dangkal diambil manfaatnya, jika ada.

Putin, menerapkan strategi gerilya kelas dunia. Prinsipnya gerilya memainkan momentum dengan memakai hasil analisa data intelijen. Hilang saat lawan kuat dan timbul menyerang saat lawan lemah.

Pasca pandemi covid 19, semua negara bermasalah. Lemah. Daya tahan rendah. Risiko tinggi jika digoyang. Tak terkecuali Ukraina, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Yang dianggap pongah oleh Rusia, selama ini.

Dendam kesumat itulah dimainkan momentumnya. Rusia dan RRC main mata, senyuman kaya makna. Menguji nyali negara barat yang ke GR an. Menyakitkan hati. Banyak membuat kekacauan di banyak negara dari masa ke masa.

Pendek kata, Ukraina jadi sasaran antara dan Eropa sasaran utamanya. Perang Rusia Ukraina, tapi RRC dan Indonesia pemenangnya. Sumber logistik pangan dan energi dirusak. Jalur distribusi disumbat. Agar pangan dan energi naik harga.

Cukup dengan gertakan agar tidak ikut campur oleh Putin. Jika ikut campur maka akan menyaksikan kejadian teramat dahsyat. Yang selama ini belum pernah terjadi di atas bumi ini. Jangan main – main, kalau tidak mau dimainkan.

Sehingga pada menahan diri termasuk NATO. Kalaupun ikut hanya sebatas jualan senjata saja ke Ukraina. Dagang senjata tersembunyi. Memperkuat neraca perdagangan dengan industri persenjataannya.

Putin tahu persis neraca pangan Eropa dan AS. Apalagi neraca energinya. Data ini yang dijadikan bahan kajian ekonomi metriksnya. Portofolio risiko dalam hukum pareto teratas. Ternyata benar adanya. Saat ini menjelang musim dingin pada pusing.

Bagaimana dengan RRC dan Indonesia ?

Kedua negara ini lagi menuai kerjasamanya yang sinergis. Yang beberapa tahun terakhir saling mendukung. Utamanya investasi infrastruktur, teknologi, perdagangan dan hilirisasi tambangnya. Misal nikel, bauksit, tembaga dan lainnya.

Konkretnya dari nikel saja dapat devisa ribuan kali lipatnya 4 tahun silam. Akan makin besar lagi. Sebagai kontributor terbesar pada PDB, agar Indonesia tak lama lagi jadi 4 negara terbesar di dunia. Belum lagi bauksit, alumunium, silika dan sawit.

Bagaimana dengan nasib Eropa dan Amerika Serikat ?

Tentu bagai neraca balon. Sebelah kanan Indonesia ditekan imbasnya ke industri hilir tambang di sana. Mereka bisa nangis meratap karena tiada lagi punya bahan baku. Selama ini diambil dari surganya dunia tambang yaitu Indonesia.

RRC, sebagai inisiator dan inovator teknologinya juga kena imbas dari kerja sama investasi saja sudah kenyang. Begitu juga Korea Selatan dan lainnya pada ikutan investasi hilirisasi tambang dan sawit di Indonesia.

Intinya, selamat datang Indonesia jadi negara ekonomi terbesar ke – 7 dunia. Itulah laporan resmi dari Dana Moneter Internasional (IMF). Sejak Oktober 2022 ini. Menyalip Inggris dan Perancis. Tinggal kita menyiapkan mutu SDM lebih kompetitif lagi agar jadi tuan di negeri sendiri yang makin inovatif ini.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *