Mon. Mar 2nd, 2026

Situasi saat ini, sangat sulit untuk multi segmen masyarakat di negara manapun juga. Termasuk di Indonesia. Fase peralihan dari manual ke mekanisasi, robotik, digital, AI dan lainnya. Makin sulit bersinergi, adanya hanya berkompetisi.

Sebuah kenyataan yang harus kita hadapi bersama. Persaingan sangat sengit utamanya mutu dan harga. Antar negara, perusahaan dan antar perorangan. Termasuk perorangan dengan mesin inovasi ciptaan manusia itu sendiri.

Konkretnya ;

Drone. Beragam kegiatan lapangan bisa memakai Drone. Hanya cukup 2 orang dan 1 unit Drone bisa mengalahkan kinerja puluhan orang. Mutu, percepatan dan murahnya biaya. Jika1 juta unit Drone, berapa korbannya ?

Kalkulasinya. Untuk nyemprot herbisida, pestisida dan pupuk hayati. Lazimnya borongan Rp 200.000/hektar. Dengan waktu kerja tersita 1 – 2 hari/orang jika manual. Jika lahan 100 ha, butuh 100 – 200 hari orang kerja. Anggaran Rp 20 juta.

Jika memakai Drone, cukup 2 orang anggaran maksimal hanya Rp 15 juta jika menyewa. Itu pun hanya butuh waktu paling lama 1 minggu saja. Korbannya 98 tenaga kerja. Implikasinya harga pokok produksi (HPP) makin rendah lalu kompetitif.

Sensus populasi tanaman sawit misalnya. Dengan kamera Drone. Skala ratusan hektar 2 hari dapat jawabannya. Jika manual, harus melibatkan puluhan orang. Hanya 1 unit Drone mengalahkan puluhan orang. Hilang lapangan kerja karenanya.

Mesin Loader. Muat sawit 200 ton/hari cukup 1 operator dan 1 unit mesin Loader. Anggarannya Rp 7.000/ton atau Rp 1,4 juta/hari, efisien. Jika manual 33 orang, anggaran Rp 5 juta, indeks Rp 150.000/orang, boros Rp 25.000/ton. Korbannya 32 orang kalah.

Digital. Kita bayangkan berapa pangsa pasar lapangan kerja untuk manusia yang telah ” sukses direbut ” oleh digital. Pos pembayaran pintu gerbang tol, pos pembayaran parkir di kota besar dan lainnya. Manusia kalah semua berebut pasar di lapangan kerjanya.

Situasi di atas saat ini makin massal di mana – mana. Sebuah tuntutan mutlak agar bisa kompetitif dan lestari usahanya. Selain itu akan menghadapi tekanan upah minta naik, akibat pangan dan biaya hidupnya juga naik. Sehingga pebisnis mutlak harus inovatif, minim tenaga kerja.

Bagaimana nasib kaum menengah dengan pendapatan UMR yang ditetapkan oleh pemerintah. Padahal jumlahnya di Indonesia yang berpendapatan Rp 1,7 juta – Rp 8,2 juta/bulan. Antara 187 – 200 juta (BPS). Padahal motor produk domestik bruto (PDB) terbesar.

Ini masalah paling serius terjadi saat ini. Saat biaya hidup naik, dampak dari rupiah melemah padahal pangan banyak impor dengan dolar. Satu sisi banyak perusahaan/pabrik mengurangi tenaga kerjanya. Tidak mau ambil resiko berat, cashflownya.

Ilmu hikmahnya. Ada potensi resiko di masa depan akan nyata pengurangan lapangan kerja untuk masyarakat menengah. Makin massal. Harus diantisipasi. Karena pangsa pasar lapangan kerja makin dikuasai oleh inovasi ciptaan manusia juga demi bisa menang dalam kompetisi.

Ini juga akan jadi tantangan tersendiri. Bagi Perguruan Tinggi yang orientasinya menghasilkan pencari lowongan kerja. Bukan pencipta lapangan kerja, Entrepreneur.

Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *