Thu. Jan 15th, 2026

Tahun 2012, saya pertama kali menginjakkan kaki di Pangkalan Bun Kalteng. Spontan kaget karena banyak lahan dekat Bandara Iskandar subur luas. Lalu saat pulang ke Banyuwangi saya kisahkan ke masyarakat utamanya yang terampil bertani.

Tahun 2013, tanpa banyak pikir agar tidak panen kepikiran saja. Tanpa banyak rencana agar tidak panen wacana saja. Langsung saya beli lahan dan menanam. Terus dan terus begitu. Saya cari pendamping Notaris senior di Pangkalan Bun tiap transaksi.

Pekerjaan 99% dari masyarakat sekitar saya libatkan. Sebagian dari Banyuwangi. Umumnya yang lagi bermasalah ekonomi. Bangkrut. Demi anak sekolah atau karena sesuatu hal. Ada yang sedang membiayai anak – anaknya studi pascasarjana di luar negeri.

Karena di Jawa arus kas tidak sehat. Lebih besar pasak dari pada tiangnya. Lalu punya utang hingga ratusan juta. Setelah kerja lalu menanam di lahan kosong. Hingga puluhan orang. Diuntungkan oleh masyarakat Pangkalan Bun yang welcome sangat.

Kalau hanya menanam sayuran saja. Misal cabai, tomat, kacang panjang, terong, buncis dan lainnya. Tanpa menyewa seperti di Banyuwangi Rp 25 juta/ha/tahun. Tapi gratis. Sekali lagi, gratis. Praktis 2 tahun saja, mereka punya tabungan ratusan juta.

Mereka sadar betul bertani di Jawa, masalah utama tidak punya lahan luas. Di Pangkalan Bun jadi sebaliknya. Luas, lahan gratis untuk sayuran. Kalau mau beli masih murah. Hanya 5% dari harga sawah di Banyuwangi. Tahun berikutnya bisa beli lahan dari panennya.

Yang menarik, yang mau ditanam adalah komoditas yang selalu didatangkan dari Jawa. Otomatis siap bersaing dengan laba sehat. Intelijen bisnis dulu ke pelabuhan dan pasar. Setelah tahu mana yang marketable, itulah yang ditanam. Tanpa memakai teori yang rumit – rumit harus dihafal.

Konkretnya ;

  1. Mas Sapii, tahun 2013 datang tanpa apa pun juga. Mengaku punya utang ratusan juta. Saat ini kebun buah naga memakai lampu listrik, buah di luar musim. Kebunnya 5 km dari Bandara, 7 hektaran. Omzet tidak kurang dari Rp 3,5 miliar/tahun. Utang di Jawa lunas.
  2. Pak Sukani, sejak awal rajin kerja di kebun buah naga saya. Bangun pagi suami istri, borongan. Hasilnya buat biaya anaknya studi di luar negeri keduanya. Saat ini punya kebun sendiri, cabai dan lainnya. Utang lunas. Kedua anaknya mentas. Terus beli kebun dari hasil panen, tanah numpang gratis.
  3. Pak Madi, tahun 2014 ke Pangkalan Bun. Karena bangkrut. Ikut borongan merawat kebun buah naga saya. Menunggu kebun jeruk Chokun saya. Di luar jam kerja menanam cabai, gambas, dan lainnya. Di lahan saya dan tetangga. Gratis. Sekarang omzet minimal Rp 200 juta/tahun. Punya kebun, rumah bagus. Utang lunas.
  4. Mas Gatot, 2 tahun lalu datangnya. Juga mantan bangkrut. Ikut nunggu kebun Chokun. Sekaligus menanam sayuran juga. Hemm, sekarang utangnya ratusan juta di Banyuwangi lunas. Hidupnya terlihat begitu bahagianya suami istri. Nampak rukun mesra membuat orang lain iri saja. Mentalnya hebat, keterampilan bertani juga inovatif.

Kadang kami sesama orang pernah bangkrut ketemuan. Kadang saling berkisah masa sangat sulit karena bangkrut. Tak ubahnya saya 14 tahun silam (2008) juga bangkrut Rp 38 miliar. Jika larut sedih hanya menyalahkan keadaan atau pihak lain. Maka non solutif. Harus dialihkan perhatian dan bangkit agar hidup kembali bermanfaat bagi orang lain.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *