Wayan Supadno
“Tuhan tiada kan mengubah nasib suatu kaum/bangsa/seseorang, jika yang bersangkutan tidak berusaha mengubahnya sendiri”, begitulah isi pesan dalam Kitab Suci. Jelas dan selalu tepat janji.
Agar mudah dapat pembelajaran ilmu hikmah. Akan saya uraikan kisah nyata yang berkorelasi dengan judul di atas. Sehingga kita bisa lebih matang dewasa, konkret dan bukan seremonial belaka.
Agar kita tidak terjebak dalam fatamorgana kilauan, dianggapnya emas berlian bernilai tinggi, ternyata cuma serpihan kaca pecah yang sesaat saja kena sinar matahari. Silau dan kagum dalam tipuan tersistematis.
1). Pencemaran ekstrem.
Pembiaran puluhan tahun lamanya. Suara hati saya, seolah negeri ini tiada pemimpin yang punya hati nurani dan tiada pengetahuannya. Merusak generasi dengan sengaja dan berlarut.
Konkretnya, di Sidoarjo Jawa Timur. Tidak jauh dari pemimpinnya. Tidak jauh dari banyak perguruan tinggi berdiri. Berjejer pabrik tahu. Bahan bakarnya “limbah sampah plastik impor ribuan ton” per bulannya.
Tahu semua itu sangat berbahaya. Sangat merusak kesehatan masyarakat kita. Tapi dibiarkan saja tanpa solusi edukatif terapan. Ipteknya cuma dihafal saja, agama cuma jadi kemasan saja. Tanpa terapan.
2). Tsunami pengangguran.
Sejak 20 tahun silam sudah diramal oleh banyak ekonom kelas dunia. Bahwa hanya masalah waktu saja, akan ada terjadi pergeseran pola hidup masyarakat di atas bumi ini. Kanibal lapangan kerja justru oleh inovasi hasil temuannya.
Konkretnya, akan terjadi lonjakan pengangguran karena lapangan kerja diganti robot buatan manusia yang pasti robot lebih murah, tanpa lelah, tanpa banyak demo mengganggu pengusaha pemilik perusahaan dan produk karya dari robot sangat kompetitif.
Karena itulah terjadi pengangguran massal. Banyak kajian ekonom kelas dunia memberi rekomendasi solusi “agar membangun SDM pencipta lapangan kerja, sebanyak mungkin”. Ini di banyak buku ada.
Faktanya justru hanya lomba wisuda massal “rutin” pencari kerja jutaan orang/tahun. Saat bersamaan di negeri yang kaya raya ini. Terus tiada henti tiap hari PHK massal. Ini semua jadi sebab kemiskinan dan stunting terjadi.
Harusnya, perguruan tinggi sebagai gudangnya ilmuwan segera mawas diri hal ini. Pemerintah harus menstimulus iklim investasi agar pebisnis yang ada mau investasi dan ekspansi lalu menyerap pengangguran massal.
Ilmu hikmahnya, harus ada solusi konkret membumi. Masyarakat banyak yang susah, sudah muak melihat pemandangan seremonial saja. Sudah “sakit pedih” matanya melihat pemimpinnya hidup bermewahan di menara gading, memakai APBN dari keringat rakyatnya.
Salam Introspeksi🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630