Tulisan ini, tiada bermaksud mereduksi kontribusi pihak lain. Apalagi niat menyalahkah pihak lain, sama sekali tidak ada maksud itu. Yang pasti berpikir positif mengambil ilmu hikmahnya untuk bahan pembelajaran agar tidak terulang lagi di kemudian hari.
Harapannya tulisan ini bisa jadi penjelasan kepada banyak pejabat, tokoh masyarakat dan masyarakat luas. Yang menanyakan kronologisnya. Sebab, dampak dan antisipasinya ke depan. Sehingga kejadian serupa tidak perlu terulang. Rugi moril maupun materiil.
1. Sebab.
Idul Adha, tahun 2022 karena wilayah Jawa dan Sumatera lagi musibah PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dan LSD (Lumpy Skin Diseases). Sehingga yang arah ke Jabodetabek dihambat. Lockdown, guna meminimalkan penyebaran PMK dan LSD pada sapi lebih luas lagi.
Lalu yang diizinkan masuk Jabodetabek hanya dari wilayah yang negatif/steril PMK dan LSD. Yaitu Provinsi NTB dan NTT. Sehingga yang masuk dari Bima NTB saja terdaftar 21.000 ekor. Habis semua. Peternak sapi NTB pada bahagia. Semangatnya beternak bagai dipompa saja.
Tahun 2023, Idul Adha kali ini. Luar biasa banyaknya 28.000 ekor dari Provinsi NTB saja. Karena terinspirasi tahun sebelumnya. Bahkan yang menurut Perda NTB harusnya minimal 250 kg/ekor tapi faktanya banyak yang di bawahnya, bahkan di bawah 200 kg/ekor pun ada juga.
Ini terjadi karena desakan peternak sendiri. Jika dibatasi oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB, para peternak mau demo. Jalanan arah Jakarta mau ditutup. Ini dianggap pilih kasih. Yang terjadi daya pasok melampaui permintaan. Tidak terserap pasar 13.000 ekor, se-Jabodetabek.
2. Akibat.
Banyak lapak penjualan sapi kurban tersisa banyak. Bukan hanya dari Bima saja. Dari semua daerah. NTT, Jatim, Jateng, Jabar dan Lampung. Panik karena habis masa sewa lahan lapaknya dan mahal biaya pakannya karena sulit didapat di Jabodetabek.
Banyak yang dibawa pulang lagi ke daerah asalnya. Termasuk sapi dari Bima NTB. Tapi karena Provinsi NTB dan NTT bebas negatif dari Penyakit Sapi LSD, dilarang oleh Karantina. Dicegat di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi belasan tronton. Sebagian kembali ke Jakarta lagi.
Sikap tegas Badan Karantina kita, patut diacungi jempol. Andaikan tidak dihadang lalu 1,4 juta ekor sapi di NTB terjangkit LSD. Pasti yang susah juga para peternak sapi. APBN juga sangat besar anggaran mengatasinya, bisa triliunan. Tapi sisi lain, sapi dari Bima seperti setrika saja. Bolak balik. Sapinya jadi kurus.
Karena panik, maka sapi banyak yang diborongkan bahkan harga sangat tidak wajar ada yang hanya Rp 8,5 juta/ekor. Begitu saya membuat video singkat dan artikel hal tersebut viral di medsos. Pembeli berdatangan, utamanya dari Sumatera. Transaksi, muat di truk langsung bablas.
Pemerintah, Badan Pangan Nasional (Bapanas). Terus zoom meeting siang dan malam hingga larut malam mendekati jam 24.00. Melibatkan Kementan, Kemendagri dan pelaku usaha. Agar secepatnya disikapi. Sangat darurat sifatnya. HP saya bunyi terus, ada yang menawari sapi dan ada pula yang beli sapi.
3. Antisipasi.
Pengalaman adalah guru terbaik. Luqman Al Hakim mengajarkan betapa sangat bernilai ilmu hikmah dari setiap kejadian. Bunda Teresa mengatakan ” Kalau mau berbuat baik, jangan menunggu pemimpin, langsung saja berbuat “.
Artinya ke depan mesti ada kajian berapa potensi pasar. Begitu juga impor sapi, daging sapi dan daging kerbau hendaknya tidak benturan. Sehingga PD Dharma Jaya dan Bulog saja, stok penuh daging impor. Sehingga tidak bisa membeli sapi Bima tersebut.
Paling utama adalah peternak sapi perlu menahan diri, tidak mudah terpancing emosi mau demo misalnya. SKKH dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB harus konsisten dengan Perda minimal bobot 250 kg/ekor. Jika situasi sangat darurat karena menyangkut peternak banyak dan ternak di kota.
Hendaknya dapat perlakuan khusus saat mobilisasi ke pembelinya. Misal seperti dari Jakarta ke Sumatera bisa sangat mudah dan langsung. Tapi kalau ke Kalimantan Tengah teramat sangat rumit. Bukan dijadikan ” Bola Pingpong “. Ini termasuk iklim usaha tanggung jawab pemerintah.
Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630