Wayan Supadno
ATR Perdagangan AS-Indonesia jadi heboh, hingga jadi opini publik pro kontra. Itu biasa dalam negara demokrasi. Tapi dampaknya jadi luar biasa jika tanpa data fakta. Apalagi jika jadi bahan menggiring opini mematahkan semangat berbangsa.
Ini harus diklarifikasi, idealnya dengan data dan fakta. Pesan bijak dari Albert Einstein ” Cara mematahkan teori dari 100 sarjana, tidak perlu debat dengan banyak teori juga, cukup dengan 1 bukti nyata data fakta pengalaman”.
Agar mudah dapat ilmu hikmahnya, berikut ini saya uraikan :
Data singkat neraca perdagangan Indonesia (2025) Indonesia surplus USD 41,4 miliar setara dengan Rp 690 triliun. Artinya kita “menang” dalam perdagangan global. Hebatnya lagi, sumber terbesar dari AS yakni Rp 230 triliun.
Ini pondasi pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa selain konsumsi rumah tangga, investasi swasta dan belanja negara. Itulah sebab pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5,11 teratas dari semua negara anggota G20.
Sumber surplus kita selain dari AS sebanyak USD 14,9 miliar. Meliputi Uni Eropa USD 4,06 miliar. India USD 11,29 miliar. Jepang USD 2,36 miliar. Filipina surplus USD 7,18 miliar. Malaysia USD 2,19 miliar. Vietnam USD 3,59 miliar.
Peran AS bagi Indonesia sangat vital karena kontributor devisa terbesar kita, dari semua negara. Selain terbesar nilai nominal, juga terbesar efek dominonya. Ini harus kita sadari dengan hati dan logika. Bukan sekedar narasi menggiring opini.
Impor AS ke Indonesia pengaruhnya sangat besar yaitu terciptanya lapangan kerja jutaan orang. Hasil industri tekstil. Alas kaki sepatu dan lainnya. Sawit dan produk turunannya. Karet dan produk turunannya. Elektronik. Mebel kayu. Padat karya semua.
Sebaliknya yang diekspor AS ke Indonesia meliputi pesawat. Kapas. Sebagian kecil gandum, karena gandum dominan impor dari Australia. Kedelai yang memang tanaman sub tropis juga. Alat kesehatan. Farmasi. Mesin industri dan alat berat.
Yang lucu lagi, ada yang menganggap Indonesia selama impor ayam dan telur dari AS, berpotensi makin besar. Itu salah besar. Karena telur dan ayam kita sudah surplus, walaupun belum merata. Tapi tetap akan kurang jika MBG (Makan Bergizi Gratis) sudah masif.
Yang diimpor dari AS oleh Indonesia adalah hasil inovasinya ayam. Kakek/Neneknya ayam yaitu GPS (Grand Parent Stock), ini menghasilkan PS (Parent Stock) lalu melahirkan DOC (Day Old Chock) anak ayam petelur dan ayam pedaging kita umur sehari.
Data fakta di atas inilah yang jadi pemicu Donald Trump sebagai Presiden AS sekaligus Pengusaha. Indonesia sangat penting perannya. Selama ini Indonesia “menang dagang” dengan AS. Mutlak. Surplus di atas Rp 230 triliun, banyak sekali itu.
Konkret dampak marahnya Donald Trump. Brazil kena pajak ekspor ke AS besar. Lalu AS impor daging sapi dari Australia. Efek dominonya sapi Australia mahal Rp 65.000/kg sampai Indonesia. Daging sapi langka dan mahal bisa inflasi. Risiko.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630