Wed. Jan 14th, 2026

Empiris, masa kecilku terlalu unik. Nakal sekali. Tukang adu jago, curi telur, juga maniak susu. Saat kecil di SDK St Agustinus. Tiap Senin Kamis dapat jatah susu, wajib bagi semua murid. Antri.

Sayangnya banyak yang muntah – muntah. Tidak mau susu. Nah, yang tidak diminum. Sayalah penampung susu yang tidak laku di pasar, itu ibaratnya. Dapat jatah plus – plus tiap Senin Kamis.

Kampung kelahiranku di Banyuwangi Selatan. Berbatasan langsung dengan hutan jati milik PT Perhutani. Sebelah selatan, barat dan utara. Dulunya Transmigrasi Lokal dari Yogyakarta, sekitar Tahun 1921 an.

Begitu juga saat SMP hingga SMA. Karena saat kos di Kalibaru Banyuwangi Barat, SMA 1 Singaraja Bali. Budhe (Istri dari Kakak Kandung Ibunda), jadi relawan di Balai Desa. Bagian Posyandu berbagi susu bubuk dari WHO.

Kasusnya sama persis, banyak susu tidak laku diserap masyarakat walaupun gratisan. Tentu mengeras dalam gumpalan kemasan bulat 2 kg/bulatan. Ukuran bola sepak dari plastik mainan anak – anak. Keras bagai batu.

Lagi – lagi dapat rejeki nomplok. Saya tampung, belum tahu arti kadaluwarsa. Tiap pagi saya kerok memakai sendok dan pisau dapur. Direbus dengan matang, konsisten tiap pagi. Kadang sore hari. Menyenangkan.

Apalagi didampingi dengan telur rebus setengah matang, luar biasa nikmatnya. Memang sejak kecil saya maniak telur dan susu. Bahkan masa kecil, tiada hari tanpa telur mentah. Hanya dilubangi dengan paku agar awet, ujar para tetanggaku dulu.

Jika ada hajatan, biasa ada telur jadi salah satu bahan sesajen. Misal wayangan, sunatan atau khitanan. Sering saya curi. Begitu juga di petarangan ayam di kandang ayam milik tetangga. Ayam kampungku banyak sekali.

Artinya, betapa pentingnya edukasi sosialisasi dan apalagi motivasi. Susu saja hal sangat bernilai tidak laku padahal gratisan, itu terjadi saya yakin akibat kurangnya edukasi motivasi publik. Saya yakini masih banyak kasus serupa.

Begitu juga saat ini, banyaknya pengangguran hingga meluber jadi TKI. Impor pangan dan pengusaha investor (PMA). Lahan terlantar 17 juta ha lebih. Akibat kurang Praktisi (Pengusaha/Investor). Kurang edukasi pentingnya melahirkan praktisi sebanyak mungkin.

Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
Hp 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *