Sun. Mar 1st, 2026

Beberapa bulan lalu saya kedatangan tamu di rumah Pangkalan Bun Kalteng. Biasa. Tuduhannya dianggap saya anak keluarga kaya raya berdarah pengusaha dan pendidikan pascasarjana. Karena terlihat saya telah mengkaryakan hampir 200 orang, tiap tanggal 30 gajian.

Dilihatnya ada sapi di atas 500 ekor dan kebun di atas 500 hektar. Tuduhannya lagi dipikir selama ini saya memakai dana bank. Padahal itu semua berkat saya mencintai negeri nan indah ini kaya multi potensi, Indonesia. Saya jabarkan di lapangan fokus bisnis pada pertanian pangan kebun, ternak dan pupuk.

Sekaligus jadi jawaban bagi siapa saja yang selalu meragukan masa depan profesi petani dan peternak. Jawaban juga bagi siapa saja yang enggan memulai bisnis karena bukan keluarga pebisnis. Juga menangkis bahwa mengawali usaha harus dengan bermodal banyak dan pendidikan sangat tinggi.

Terpenting lagi, jawaban atas ketakutan banyak orang. Kalau kisah berbisnis dibagikan strategi taktis dan teknisnya. Itu rahasia. Eman karena mencarinya ilmu praktisi dengan pengorbanan sangat besar. Untuk mendanai kegagalan, kerugian dan bangkrut.

Setelah gagal, rugi dan bangkrut barulah dapat ilmu hikmah pebisnis di balik kejadian tersebut. Kisah dan kiat bisnis ilmu hikmah yang teramat penting ” disimak dan direplikasikan praktik ” oleh kawula muda. Sehingga saya ikhlas berbagi kisah sejak usia 40 tahun di banyak kampus, agar diambil ilmu hikmahnya.

Tak ubahnya kita tahu, di saat kita masih kecil hidup di pedesaan dulu. Tiap malam menjelang tidur Kakek Nenek selalu mendongeng hal kebajikan. Misal tentang Si Kancil, Si Pitung, dan banyak lagi Legendaris lokal. Juga mendongeng tentang perjalanan hidupnya Kakek dan Nenek.

Pengalaman pribadi saya, berani mengawali bisnis terinspirasi kisah orang lain. Kisahnya yang menukik bumi, bukan yang teoritis melangit. Konkret aplikatif, logis bisa ditiru oleh siapa saja. Begitu juga proses saya mengawali bisnis, berkat orang lain. Tata cara mengelola usaha juga karena ada kisah orang lain yang saya simak.

Contoh konkret ;

Bob Hasan, Chairul Tanjung, H Rasyid dan konglomerat lainnya. Semua berlatar belakang dari keluarga bersahaja. Semua menerapkan manajemen jarak jauh. Membeli lahan dan mengukur lahan yang dibeli, tiada pernah ikut. Membuka kantor cabang, pabrik dan usaha baru juga tiada pernah ikut menggunting pita.

Leadership yang dikedepankan. Bisa dipercaya dan mampu mempercayai pihak lain baik itu manajemen pengelola usaha maupun para pakar/ahli tempatnya berdiskusi fokus bisnisnya. Bahkan mengontrol keuangan pun memakai pihak lain yaitu akuntan publik.

Artinya semua usaha yang mengkaryakan puluhan ribu karyawan dengan aset produktif puluhan triliun. Berawal dari kecil. Usaha bisa berjalan karena proses sinergitas yang terkendali dengan penerapan atau praktik leadership yang benar dan tepat saatnya. Bukan dipikir sendiri, bukan dikerjakan sendiri dan bukan dananya sendiri.

Begitu juga saya, yang karena ” latah ” ikutan usaha. Dari utang Primkopad Rindam l/BB Pematang Siantar Sumut. Tahun 1995, Rp 700.000. Penggunaannya Rp 400.000 beli Vespa Kongo 1964, Rp 200.000 untuk isi amplop ucapan terima kasih ke dokter penolong anak saya lahir dan Rp 100.000 untuk modal bisnis. Sekaligus jadi Tentara sebagai Dan Tim Keslap Dodik Latpur.

Sekarang mengelola semua usaha ada di Bogor, Pangkalan Bun Kalteng dan lainnya. Juga latah menerapkan manajemen jarak jauh. Leadership saja. Saya tahu diri, sungguh sangat saya syukuri apa yang ada. Sangat saya ucapkan terima kasih yang mau berkisah dalam buku lalu saya baca dan tiru. Ternyata bisa ala kadarnya.

Hal terindah manakala, ratusan orang akhir bulan dapat gajian dari saya buat kecukupan keluarga. Bisa ikutan kelas ecek – ecek kegiatan sosial kemanusiaan, menyisihkan laba usaha misal buat donasi pengobatan gratis, beasiswa dan lainnya. Tentu juga bisa jadi sarana meyakinkan anak kandung dan kawula muda bahwa masa depan dunia pertanian teramat indah, Indonesia Surga Dunia Agribisnis.

Pesan Aristoteles :

1. Patriot Sejati, karena kecintaan yang pekat kepada negerinya. Dengan cara konsisten berkontribusi dedikasi tiada henti untuk negerinya. Agar negerinya makin lebih baik lagi. “

2. Patriot Sejati, mencintai negerinya bukan karena hebatnya. Tapi karena itu adanya yang dimiliki. Maka miliki yang dicintai dan cintai yang dimiliki.

Salam 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *