Empiris.
Masa lalu adalah sumber ilmu. Utamanya ilmu hikmah. Ilmu hasil kaji ulang. Ilmu hipotesa dan kesimpulan dari mengaudit. Apa saja salah atau benarnya dan kelemahan atau kelebihannya.
Seorang peneliti senior yang peduli dengan negeri ini. Utamanya efektivitas dan efisiensi penggunaan dana APBN untuk penelitian (riset). Beliau sedang meneliti hasil – hasil penelitian di negeri ini.
Saat telepon mengajak diskusi santai. Curhat. Menuturkan kegelisahannya. Ternyata hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti hanya berkisar 15% yang terhilirisasikan.
Dana terakumulasi buat penelitian ratusan triliun dari APBN pajak rakyat kita. Cucuran keringat sejagung – jagung rakyat Indonesia. Ini harus dibuka walaupun aibnya para pemikir bangsa. Itu ujarnya.
Beliau juga mencontohkan. Korea Selatan dan Vietnam keduanya merdeka setelah Indonesia. Tapi produk inovasi mereka telah menguasai pasar dunia. Misal Samsung dan Hyundai.
Di Indonesia, hasil – hasil penelitiannya belum terhilirisasikan di atas 85%. Tersimpan di lemari. Multi sebab. Ini PR besarnya. Belum bisa dikatakan inovasi. Masih invensi. Karena belum terkomersilkan bermanfaat nyata.
Harus terkomersilkan karena agar tambah manfaatnya dan mencetak laba untuk riset lagi, untuk meneliti lagi. Apa pun yang diproduksi hendaknya bermanfaat wujud moril dan materiilnya.
Misal, produk tertentu mahal sulit prosesnya. Jadi murah dan proses sederhana cepat. Lalu biaya lebih rendah, tapi hasil lebih banyak. Biaya dibagi hasil namanya indeks HPP. Harga pokok produksi (HPP) jadi rendah. Bisa kompetitif.
Itulah invensi hasil penelitian. Setelah dipakai banyak orang karena terkomersilkan (terhilirisasikan) seperti Hyundai dan Samsung, itulah baru bernama ” Inovasi “. Permintaan pasar makin banyak.
Lalu diproduksi secara industri massal, dapatlah laba makin besar, berkelanjutan untuk jadi modal riset lagi. Itu makna penelitian membawa perubahan bagi kemanusiaan. Humanis sifatnya hidup makin sederhana dan mudah.
Karena beliau tanya hal formula saya hormonal Hormax dan pupuk hayati/mikroba Bio Extrim. Bagaimana kisahnya dulu hingga bisa diterima pasar belasan tahun lamanya. Saya katakan yang berhak menilai hasil riset kita baik atau tidaknya, bukan kita sebagai penelitinya. Tapi pasar.
Menghilirisasikan/memasarkan hasil riset memang sulit. Agar mudah maka sebelum riset objeknya. Logisnya riset/intelijen pasar terlebih dulu. Apa butuhnya ? Apa inginnya ? Bagaimana spesifikasinya dan seterusnya ? Barulah dimulai riset/penelitian.
Salam 🇲🇨
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630