Wayan Supadno
Fakta lapangan berikut ini bisa diambil ilmu hikmahnya. Bahan pembelajaran kita semua. Penting karena esensi ketahanan pangan bukan sekedar swasembada beras saja tapi banyak aspek indikatornya. Bisa juga dijadikan bahan mawas diri kita sebagai sebuah bangsa.
1). Susu dan Daging Sapi.
Belakangan ini harga susu dan daging sapi mulai meroket. Bisa memicu inflasi dan jadi beban biaya hidup masyarakat. Karena makin banyak permintaan pasar dampak langsung dari makan bergizi gratis (MBG). Susu 78% kita impor.
2). Telur dan Daging Ayam.
Sekalipun secara nasional sudah swasembada, tapi tidak merata sentra produksinya. Padahal inilah sumber protein hewani termurah. Diyakini akan defisit jika MBG sudah masif untuk perbaikan gizi anak-anak.
Artinya Kementerian Pertanian harus mampu “menjabarkan di lapangan” dengan program antisipasi cepat. Agar peluang emas ini bisa jadi jalan pintas meningkatkan kesejahteraan dan daya beli masyarakat kita.
Jangan sampai terus impor menguras devisa, karena kapital terbang dan kita cuma jadi pangsa pasar produk negara lain. Melemahkan ketahanan nasional. Harus swasembada protein hewani yang sangat besar dibutuhkan MBG jangka panjang.
Menakar ketahanan pangan sangat penting, bagian stabilitas negara, kesehatan masyarakat dan menyiapkan generasi penerus bangsa. Indeks pada Global Food Security Index (GFSI) digunakan untuk membandingkan tingkat ketahanan pangan antar negara.
Kriteria / Indikator Ketahanan Pangan
Menurut GFSI :
1). Ketersediaan pangan. Jumlah dan kontinuitas pasokan makanan di dalam negeri.
2). Keterjangkauan. Kemampuan masyarakat untuk membeli pangan dengan harga stabil.
3). Kualitas dan keamanan pangan. Apakah makanan yang tersedia bergizi dan aman.
4). Keberlanjutan dan resiliensi. Kemampuan menghadapi perubahan iklim, gangguan produksi dan risiko lainnya yang memengaruhi pasokan pangan.
Berdasarkan Global Food Security Index, Indonesia berada di sekitar peringkat ke-63 dari 113 negara dan peringkat ke-4 di Asean. Di bawah Singapura, Malaysia dan Vietnam.
Manfaat Menakar Ketahanan Pangan :
1). Deteksi dan antisipasi risiko.
Dengan pengukuran yang tepat, negara dapat lebih cepat mendeteksi masalah dalam pasokan dan akses pangan sehingga bisa mengambil langkah antisipatif sebelum terjadi krisis.
2). Dasar kebijakan yang berbasis bukti.
Data seperti GFSI atau indeks nasional membantu pemerintah merumuskan kebijakan penggunaan lahan, rantai pasok, subsidi, cadangan pangan, atau program intervensi gizi.
3). Evaluasi efektivitas program.
Pengukuran berkelanjutan memungkinkan mengevaluasi apakah program-program yang ada, seperti dukungan untuk petani, stabilisasi harga, atau program gizi, benar-benar memperbaiki ketahanan pangan.
4). Mendorong kerja sama internasional.
Posisi dalam indeks global dan regional menjadi dasar diskusi kerja sama antar negara untuk berbagi solusi dan sumber daya menghadapi tantangan bersama.
Program MBG upaya intervensi gizi sosial untuk memperbaiki gizi masyarakat terutama anak-anak dan ibu hamil/balita. Program ini berhubungan dengan ketahanan pangan dari sisi akses pangan yang bergizi. Menyiapkan putra putri kita jauh lebih bermutu.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630