Wayan Supadno
Dalam rangkaian pemasaran hingga terjadinya deal transaksi bisnis, sering kali terjadi ” bukan ” karena orangnya pintar atau mutu produk atau jasanya bagus semata. Justru sering sukses karena bisa diskusi dengan hati, karena soft skill.
Silahkan anak muda disimak kisahnya, ada ilmu hikmahnya. Ini yang sering diajarkan di perusahaan farmasi PMA/Inggris yang usianya sudah ratusan tahun, saat saya dulu jadi karyawan di sana.
Penuh Etika.
Seseorang tanpa punya modal, tapi sangat yakin bahwa etika yang menentukan masa depannya. Ikut pameran di luar negeri punya ide gagasan bisnis bagus. Logis dikerjakan.
Ekspor VCO, arang briket, karbon aktif, cocopeat dan produk turunan lainnya dari kelapa. Saat pameran suka ” diskusi dengan hati ” nuansa humanis. Lalu investor suka dan rasa hormat yang tinggi.
Dasarnya memang punya dana dan butuh barang dagangan, tapi terpenting butuh mitra bisnis yang punya hati. Agar ada kepastian sumber barang dagangan jangka panjang dari ” manusia yang tepat “.
Berkomitmen lalu datang ke Indonesia melihat besarnya potensi. Didanai duluan semua investasinya. Goal jadilah eksportir laba besar jangka panjang, modal dengkul.
Diskusi dengan hati berarti berbicara dan mendengarkan dengan niat baik, pikiran terbuka, serta memahami sudut pandang orang lain, bukan sekadar menyampaikan pendapat pribadi.
Tujuannya bukan untuk mendominasi, tapi untuk mencari titik temu, mempererat hubungan, atau menyelesaikan masalah secara sehat dan manusiawi.
Manfaatnya ;
1). Membangun kepercayaan dan kedekatan. Komunikasi terasa lebih jujur dan terbuka.
2). Meningkatkan kualitas pemahaman. Kita bisa benar-benar memahami alasan atau perasaan orang lain.
3). Menghindari konflik yang tidak perlu. Diskusi jadi damai, tidak panas atau penuh ego.
4). Membuka jalan solusi yang lebih bijak. Karena semua pihak merasa didengarkan dan dihargai.
5). Meningkatkan kolaborasi. Orang cenderung lebih mudah bekerja sama jika merasa dihargai.
Caranya ;
1). Menenangkan hati dan pikiran untuk masuk ke diskusi tanpa emosi meledak-ledak.
2). Mendengarkan lebih dulu, tanpa menyela dengan menunjukkan bahwa benar-benar ingin memahami, bukan menyerang.
3). Menggunakan kata-kata yang sopan dan empatik, misal menghindari nada tinggi, sarkasme, atau menyalahkan.
4). Menghargai pendapat yang berbeda, misal beda pandangan itu wajar, bukan musuh.
5). Fokus pada solusi, bukan siapa yang menang dengan mengutamakan kepentingan bersama, bukan ego pribadi.
Salam Inovasi 🇮🇩
Wayan Supadno
Pak Tani
HP 081586580630